Selasa, 03 April 2012

Jangan asal ngomong “Kepo”


Tulisan ini ditujukan untuk semua orang percaya dari seluruh golongan usia. Kata kepo pada saat ini, tidak hanya menjadi trend di kalangan para anak muda; namun juga sering dilontarkan oleh beberapa kalangan dewasa.

Namun yang menjadi perhatian saya, sebagai seorang Hamba Tuhan adalah ketika penggunaan kata “Kepo” ini yang terkadang terkesan sembarangan dan tidak sesuai dengan fungsi awalnya. Semua orang yang bertanya seakan-akan terkesan ingin tahu dan mengorek-mengorek sesuatu, tanpa melihat motivasinya sudah langsung dijudge sebagai orang kepo. Padahal mungkin dari pihak si penanya, ia tidak ada maksud ingin tahu semua keadaan orang itu (bahkan menjadi orang yang sok tahu).

Hal-hal semacam inilah yang ingin coba saya berikan berupa pertimbangan mengenai pemahaman kata kepo untuk lebih diperhatikan lagi dalam penggunaannya.


Di bawah ini, saya sajikan beberapa pendefinisian kata kepo, yang saya ambil dari internet:
Kata “Kepo” menurut kamus kitab gaul (http://kitabgaul.com/word/kepo) berasal dari kata Hokkian, yang berasal dari 2 kata yaitu ke dan po (apo). Ke artinya bertanya dan Po (Apo) artinya nenek-nenek. Artinya secara jelas adalah merujuk kepada kebiasaan orangtua (nenek dan kakek juga) yang sering bertanya ingin tahu keadaan anak atau cucunya.

Kata ini juga ditujukan kepada orang yang ingin tahu sesuatu ketika ia mendengar sesuatu, dimana ketika ia menjawab sebenarnya ia sedang tidak diajak berbicara pada saat itu. Ga minta dibantu, eh malah bantu; ga ditanya eh malah pasang gaya pingin kasih tau.

Bahkan ada yang mengistilahkannya dengan bahasa Inggris, yaitu KEPO = Knowing Every Particular Object (selalu pingin tahu dan mengetahui segala sesuatu).


Friends, dari definisi ini maka dapat kita tarik beberapa hal yang bisa menjadi suatu pertimbangan mengapa terjadi penyalahgunaan kata ini di dalam percakapan kita sehari-hari. Saya akan berikan salah satu contoh ilustrasinya.
Ada seseorang hamba Tuhan yang merasa tersinggung ketika seorang remaja (bisa juga dialami oleh seorang jemaat) mengatakan bahwa ia adalah seorang yang kepo, karena hamba Tuhan ini sering bertanya-tanya mengenai keadaan anak remaja ini.
Dari sisi anak remaja ini merasa bahwa hamba Tuhan ini sangat mengganggu privasinya, sehingga seakan-akan mengorek keadaan pribadinya. Sedangkan dari sisi hamba Tuhan ini, ia merasa bahwa ini adalah sebagian dari tugas penggembalaannya untuk mengetahui keadaan anak remajanya.

Nah, dari ilustrasi ini dapat kita tangkap permasalahannya, bukan? Mau tidak mau, kita sekarang hidup di zaman postmodern yg menekankan suatu pandangan relativisme. Suatu pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada kebenaran yang absolut, yang ada adalah kebenaran menurut penilaian pribadi (relatif-selera) masing-masing.

Inilah yang sering terjadi di beberapa kalangan yang merasa bahwa penilaiannya adalah sebuah kebenaran. Memang tidak bisa langsung menjudge sesuatu karena masing-masing case harus dilihat dari beberapa aspek.

Pemikiran seorang remaja atau jemaat yang tidak mau diperhatikan atau ditanya-tanya oleh seseorang jemaat lain atau oleh hamba Tuhannya akan memakai alasan penggunaan kata kepo ini untuk self-defense. Ia tidak mau tahu bahwa orang yang sedang bertanya ini, mungkin ada maksud yang baik. Bukankah seharusnya kita juga harus bisa memahami orang lain, dengan cara belajar melihat sesuatunya diimbangi dengan melihat dari sisi orang lain (melihat dari kacamata orang lain). Mungkin saja dari pihak si penanya, memang ingin tahu dan mengenal orang yang ditanya. Atau mungkin saja dari pihak yang ditanya, memang memiliki karakter yang agak tertutup sehingga sangat sulit untuk ditanya.

Intinya adalah apakah seseorang yang dianggap kepo (ingin tahu) memiliki motivasi yang benar, terlebih jika hal ini terjadi di dalam sebuah komunitas orang percaya. Suatu pertanyaan jika didasari atas motivasi dan tujuan yang benar seharusnya dapat disikapi dengan jawaban yang benar juga.
Bagi si penanya, tentu saja suatu pertanyaan yang diberikan, dengan motivasi yang tulus dan bertujuan untuk mengenal dan peduli, tentunya juga akan diwujudkan dengan pertanyaan yang bukan seperti mengorek-ngorek rahasia pribadi orang lain.

Jadi masing-masing pihak juga harus mendasari apa yang dilakukannya dengan tujuan yang benar. Saya bisa berikan usulan, yaitu bertujuan untuk saling membangun, membentuk dan memperhatikan sebagai satu kesatuan TUBUH KRISTUS (ingat 1 Kor 12:25, 27).

1 Korintus 12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
1 Korintus 12:27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.

Jadi alangkah baiknya kalau kita sembarangan memberikan cap kepo kepada seseorang yang sedang bertanya-tanya kepada kita. Di satu sisi, ketika kita bertanya pun kita harus bertanya dengan motivasi dan tujuan yang benar dan tulus juga. Contohlah apa yang Tuhan Yesus lakukan ketika ia dengan sengaja dan mau bercakap-cakap dengan perempuan Samaria di Yohanes 4:4-30 (perhatikan latar belakang permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria).

Mungkin kalau saya melihat dan merasakan dari sisi perempuan Samaria, saya juga akan mencap bahwa Yesus adalah orang yang kepo. Untuk apa Yesus sebagai orang Yahudi mengajak berbicara dirinya sebagai seorang perempuan Samaria dan bahkan melihat statusnya sebagai perempuan berdosa (ditafsirkan pekerjaannya adalah seorang perempuan berdosa, kasarnya pekerja seksual). Tidak hanya itu, bahkan Yesus menyuruh-nyuruh dirinya untuk memanggil suaminya, yang notabene kita tahu status perempuan ini adalah perempuan dengan status memiliki suami lebih dari satu.

Tapi kita tahu sama-sama bahwa akhirnya melalui perempuan Samaria ini, ternyata Yesus melakukannya dengan motivasi dan tujuan yang memuliakan Allah Bapa-Nya di Sorga. Melalui perempuan ini, tidak hanya memenangkan jiwanya (diampuni dan diselamatkan) tetapi juga bahkan mengajak orang lain untuk datang, bertemu dan mengenal Kristus. Hal inilah yang harus kita teladani dari dua pribadi ini. Dari pribadi Kristus yang mau menjangkau dan peduli dengan orang lain sambil menceritakan tentang Allah; dan pribadi perempuan Samaria yang tidak bersifat tertutup dengan pemikiran sempitnya tentang orang Yahudi maupun tentang orang lain yang mau bercakap-cakap dengan dirinya, yang seakan-akan menyinggung masalah pribadinya yang paling dalamnya.

Jika perempuan ini memandang bahwa Yesus adalah kepo, maka ia sudah terlebih dahulu menutup pintu hatinya untuk mengenal Mesias, penyelamat yang dinubuatkan itu. Jadi janganlah sembarangan kita memiliki pemikiran yang sempit tentang orang lain yang bertanya dan ingin mengenal kita lebih dalam sebagai orang yang kepo. Padahal orang itu bertanya dengan motivasi hati dan tujuan yang tulus. Yakobus pun juga mengingatkan untuk berhati-hati menggunakan lidah kita dalam berkata-kata (bandingkan perumpamaan: mulutmu adalah harimaumu).

Selamat merenungkan dan jika ada yang kurang berkenan atau tidak setuju, boleh kita saling memperlengkapi satu sama lain dengan diskusi yang membangun. Blessings.


Jumat, 23 Maret 2012

I’m Funholic in Funtastic Team (Peranku dalam sebuah Komunitas)

(Ini adalah tulisan refleksi dan renungan untuk rekreasi Pemuda GMI Imanuel)
Pentingnya persahabatan, pertemanan, dan komunitas ternyata juga disadari oleh dunia. Salah satunya seperti yang ditulis oleh seorang tokoh kaisar Romawi, yaitu Cicero. Ia juga terkenal sebagai seorang pemikir besar, juga memiliki keahlian berpidato, pengacara, politisi, ahli bahasa dan penulis. Tulisan kutipannya yang terkenal mengenai pertemanan: “friendship improves happiness and abates misery, by the doubling of our joy and the dividing of our grief” (Pertemanan memperbaiki kebahagiaan dan meredakan-mengurangi kesengsaraan, dengan cara menggandakan rasa sukacita kita dan membagi kesedihan [duka, luka] kita). Inilah yang dinamakan keuntungan yang ganda, menambah sukacita dan mengurangi beban kehidupan kita. Teman dan sahabat berfungsi sebagai seseorang sahabat yang dipercayai, penasehat dan orang yang bisa membagi beban hidup.
 Hal ini menunjukan betapa pentingnya persahabatan dan komunitas (baik sesama orang percaya maupun dengan yang belum percaya), namun tentunya memiliki dasar pemahaman yang berbeda bagi setiap orang percaya. Bagi orang Kristen, makna persahabatan dan komunitas tidak bisa dilepaskan dari kasih Allah kepada manusia melalui karya keselamatan Yesus Kristus.
Dalam buku Life Together, Dietrich Bonhoeffer merefleksikan arti dari komunitas Kristen, yaitu “Christianity means community through Jesus Christ and in Jesus Christ…we belong to one another only through and in Jesus Christ (p. 21). Secara eksplisit berarti bahwa  seorang Kristen memerlukan sesamanya orang percaya hanya di dalam Yesus Kristus; dan bahwa kita sudah dipilih dari kekekalan, menerima pada waktunya, dan dipersatukan untuk kekekalan hanya melalui Yesus Kristus.
         Ada konsep kesatuan dalam pendefinisian arti komunitas Kristen di sini. Inilah yang seharusnya menjadi pondasi yang kokoh yang boleh dibangun menjadi komunitas pemuda-pemudi Kristen yang sehat, yang bertumbuh dan saling mengasihi di dalam dasar kasih Kristus.
            Dasar persekutuan, komunitas maupun persahabatan kita adalah kasih Kristus. Dalam Yesus dan firman-Nya kita menemukan definisi dan motivasi kasih yang benar. Kita tidak mengasihi orang lain karena adanya keharusan, atau karena rasa takut sendirian. Kita juga tidak secara otomatis memiliki kasih dalam diri kita untuk mengasihi orang-orang yang tidak kita kasihi. Kita mengasihi karena kita telah dikasihi oleh Allah terlebih dahulu (Yoh. 3:16; 1 Yoh).
            Kita memberikan kasih sebagai respon dari kasih yang telah kita terima. Sadar bahwa kasih kita begitu terbatas, begitu dangkal, mudah berakhir pada waktu kita tidak dinilai atau diberlakukan dengan cara yang tidak kita inginkan seharusnya membuat kita bergantung total pada anugerah kasih Kristus.
Hidup manusia sebagai ciptaan memang direncanakan Tuhan Sang Pencipta, untuk tidak hanya memiliki suatu relasi dengan Dia saja tetapi juga berelasi dengan sesamanya manusia. Suatu relasi dengan sesama manusia yang ditunjukan melalui adanya suatu komunitas-komunitas yang hadir di dalam seluruh kehidupan manusia, yang biasanya tidak disadari (keluarga, sekolah, kuliah, gereja, kantor dll). Berarti hidup kita bukan untuk isolasi diri sendiri, melainkan hidup di dalam komunitas.
Peran kita sebagai orang Kristen tidak hanya berperan di dalam komunitas orang percaya, namun juga di dalam komunitas yang terdiri dari orang-orang belum percaya.

      Ada tiga peran kita sebagai orang percaya, yang harus kita jalani di dalam hidup berkomunitas. Berkomunitas baik di dalam komunitas orang percaya maupun komunitas orang tidak percaya.
1. Hidup dalam komunitas orang percaya yang bersatu (Yoh 17).
Kita terlebih dahulu harus memahami komunitas yang bersatu di dalam (kasih) Tuhan. Hal ini seperti yang telah Tuhan Yesus lakukan, berdoa supaya kita menjadi satu sama seperti Bapa dan Dia adalah satu. (unity in diversity). Komunitas yang tidak membeda-bedakan satu sama lain, walaupun berbeda.
Fokusnya adalah harus sehati, sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepeningan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain leboh utama dari pada dirinya sendiri. Hendaklah dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Fil. 2:2-5). Co: Yesus dan murid-muridNya; Paulus dan rekan-rekan sekerjanya (Timotius, Tikhikus, Onesimus, Epafras, Lukas, Aristarkhus-Markus-Yesus/Yustus 1 Tes 4:10-14)

2. Hidup dalam komunitas yang saling berbagi, menolong, memberi (Pengkh 4:9-12) dan saling membentuk (Ams. 27:17 besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya)
Konteks di Pengkotbah adalah ketika seseorang sedang melakukan perjalanan menempuh padang gurun, yang pada waktu itu terjatuh dan masuk lubang yang merupakan perangkap binatang.
Ayat 11 menunjukan contoh kedua bagaimana berdua lebih baik, ketika sedang dalam keadaan tidur. Kehangatan yang dikeluarkan melalui tubuh temannya dapat menghangatkan kedinginan yang sedang dialami.
Ayat 12 menunjukkan adanya kekuatan ketika berada dalam kondisi berdua daripada sendirian. Kekuatan dalam hal jumlah, ketika seseorang sedang mengalami suatu krisis atau masalah. Akan lebih mudah diselesaikan ketika terjadi solidaritas (perhatian) dari adanya teman yang membantu.
Co: Musa dan keempat rekannya di dalam peperangan Amalekh. Joshua memimpin perang, Harun dan Hur membantu menopang tangan Musa yang sedang diangkat (Kel 17:8-16); kerinduan Yesus sebagai manusia ia butuh dukungan doa dari murid-murid-Nya di taman Getsemani.

3. Hidup yang menjadi terang dan berkat di dalam komunitas orang tidak percaya.
            Dalam seluruh aspek kehidupan kita menyatakan dan memuliakan nama Allah. Inilah perwujudan integritas kita sebagai anak Tuhan. Co: kehidupan Yusuf, Daniel.

              Dalam ketiga poin diatas, perhatikan kata "hidup" yang digunakan. Kata ini bukan tanpa maksud saya gunakan. Kata hidup sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam di dalam kehidupan umat percaya.
            Coba perhatikan penggunannya di dalam beberapa surat Paulus. Kata ini digunakan untuk mewakili kondisi keadaan hidup orang percaya. Tidak lagi hidup dalam keberdosaan, melainkan sudah berada dalam kondisi mati akan dosa dan kehidupan duniawi bersama kematian Kristus; lalu dibangkitkan dan hidup berkemenangan atas iblis, maut dan dosa. Jadi pada akhirnya inilah kehidupan orang percaya yang harus hidup, menghidupi hidupnya sebagai umat percaya, pengikut Kristus.
            Hidup di dalam takut akan Tuhan, berkenan bagi Tuhan di dalam semua aspek kehidupan. Tidak hanya memberi hidup bagi Tuhan, namun yang setara dengan itu adalah memberi hidup di dalam komunitas kita masing-masing, dimanapun dan kapanpun. Hidup yang memberikan warna, kesaksian bagi kemuliaan nama Tuhan di dalam komunitas kita.
           Perhatikan kitab Pengkotbah dalam seluruh inti kitab itu, yaitu di pasal 12 ayat 13, "(hidup) takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya". Artinya jikalau hidup dalam berkomunitas pun (berdua lebih baik dari sendiri) harus memiliki dasar dan tujuan yaitu hidup berkomunitas di dalam Tuhan, kepada (untuk) Tuhan dan bagi Tuhan.
           Hidup dalam komunitas ini, janganlah langsung membatasi diri kita untuk melakukan yang besar yang tidak sanggup kita lakukan.....lakukanlah apa yang telah Tuhan berikan yang kita sanggup untuk kita lakukan, karena masing-masing kita diberikan sesuai dengan kemampuan kita yang berbeda-beda. It's better not to do everything, but it's better to do something. Do your best in community for God and God still and will do the rest.

Selamat hidup dalam kebersamaan dan komunitas, baik diantara orang percaya maupun diantara orang belum percaya.
                                                             

Jumat, 06 Januari 2012

Tugas seorang Hamba Tuhan

Source: http://jeffreysiauw.blogspot.com (Jeffrey Siauw: My Ordination 1 Jan 2012 - Part 2)

Di dalam kebaktian pentahbisan pendeta sinode GKY, biasanya salah satu orang yang ditahbiskan diminta untuk menyampaikan khotbah sulung mewakili rekan2 yang lain. Beberapa hari sebelum pentahbisan, saya diberitahu bahwa saya yang diminta untuk menyampaikan khotbah sulung tersebut. Saya diberi waktu maksimal 10 menit, maka saya mencoba untuk menyampaikan apa yang menurut saya paling esensial dan penting untuk disampaikan. Di bawah ini adalah khotbah singkat yang saya sampaikan waktu itu:

Saya punya waktu 10 menit untuk menyampaikan pikiran, janji dan tekad saya. Pada waktu saya diminta untuk menyampaikan khotbah sulung mewakili rekan2 yang lain, saya mencoba untuk flash back ke belakang dan mengingat2.

Salah satu pergumulan yang saya alami pada waktu masih di sekolah teologi adalah, saya bertanya2, apa artinya menjadi hamba Tuhan? Semua orang melayani Tuhan, tapi apa yang membedakan pelayanan semua orang Kristen dengan sekelompok orang Kristen yang disebut hamba Tuhan? Saya tahu istilah ini kurang tepat karena sebetulnya semua orang adalah hamba Tuhan. Tapi kita terlanjur menggunakan istilah ini.

Saya bergumul cukup lama untuk memikirkan dan menemukan apa sebetulnya panggilan kami, tugas kami, yang Tuhan bebankan, sehingga kami dipisahkan dan disebut sebagai hamba Tuhan?

1 bagian Alkitab di dalam Kis 6:1-6 memberikan petunjuk yang sangat penting apa yang dipikirkan oleh para rasul tentang tugas utama mereka, fokus utama mereka sebagai hamba Tuhan.

Pada waktu itu orang Kristen baru berkumpul bersama sebagai gereja. Gereja PB baru dimulai, dan siapa yang melayani? Para rasul melayani segala hal di dalam jemaat. Saya bisa membayangkan bahwa segala urusan, apapun juga di dalam gereja, ditangani oleh mereka. Dan bagian ini memberitahu kita bahwa para rasul akhirnya sadar mereka bukanlah superman. Mereka kewalahan. Sementara jemaat bersungut-sungut karena ketidakberesan dalam pengaturan pembagian makanan bagi janda2 miskin. Atau boleh kita sebut jemaat complain dengan kurang rapihnya administrasi, kurangnya perhatian kepada jemaat, kurangnya pelayanan sosial.

Maka para rasul mengambil keputusan untuk menceritakan pergumulan mereka kepada jemaat. Dan menarik, para rasul berkata bahwa yang paling mereka khawatirkan adalah mereka tidak memuaskan Tuhan karena “kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja”. Karena itu mereka meminta supaya jemaat memilih 7 orang untuk mengerjakan tugas pelayanan meja, pelayanan diakonia, pelayanan administrasi, pelayanan pemerhati itu sementara mereka “dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman”.

Dan ini berlanjut dalam sejarah gereja. Orang yang memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Itulah yang disebut hamba Tuhan!

Pelayanan Firman bisa dikerjakan oleh semua orang Kristen. Tetapi seriusnya pelayanan itu menuntut adanya orang-orang yang mengkhususkan waktu untuk mempelajari Firman Tuhan dan mengajarkannya dengan setia. Dan karena pelayanan mereka menuntut kepekaan mengenal kehendak Tuhan, kebutuhan manusia, dan memohon anugrah Allah, maka doa adalah bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan Firman.

Maka saya percaya menjadi hamba Tuhan berarti selalu mengingatkan diri akan hal ini. Dia bukan seorang event organizer, mengatur berbagai acara yang wah. Dia bukan seorang CEO gereja, yang bisa mengatur strategi bagaimana gereja bertumbuh. Dia bukan seorang administrator ulung, yang kerjanya menangani administrasi. Dia adalah seorang pelayan Firman. Dengan belajar, menyampaikan Firman, berdoa dan memimpin sakramen. Sekalipun dia melakukan berbagai kegiatan, tapi tugas utamanya adalah belajar Firman dan mengajarkan Firman. Berdoa dan mengajak jemaat berdoa. Itu hamba Tuhan.

Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan mengerjakan semua urusan gereja karena berpikir bahwa tugas hamba Tuhan adalah menjalankan gereja (running the church). Selama kegiatan terorganisir, ada program yang inovatif, maka dia hamba Tuhan yang baik. Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan pokoknya banyak membesuk, banyak memperhatikan. Tidak peduli apa yang dia lakukan, apa yang dia bicarakan, sudut pandang apa yang dia sampaikan, pokoknya asal dia datang, membesuk, berdoa, dia hamba Tuhan yang baik. Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan pokoknya khotbah, apapun khotbahnya, berapapun sedikitnya dia persiapan dan merenungkan Firman, pokoknya dia khotbah. Saya kira Alkitab tidak ajarkan itu.

Dan banyak hamba Tuhan lupa panggilannya yang utama, mereka sibuk lakukan banyak hal yang mengalihkan perhatian mereka dari doa dan pelayanan Firman.

Kalau sdr perhatikan jubah pendeta Protestan hampir selalu berwarna hitam. Jubah ini sangat mirip seperti toga yang dipakai pada waktu seseorang diwisuda. Dan memang itulah artinya.

Gereja di abad pertengahan menekankan pelayanan sakramen untuk tiap orang yang ditahbis menjadi pastur. Tapi para reformator mengubah itu, jubah pendeta Protestan adalah jubah akademis. Jubah ini melambangkan orang yang belajar dan diangkat oleh gereja untuk menjadi pengajar Firman.

Maka hari ini, di hadapan Tuhan dan di hadapan saudara, jemaat Tuhan, saya mewakili rekan2 yang lain berjanji untuk seumur hidup menjadi pelayan Firman: Belajar Firman Tuhan sedalam mungkin dan berusaha mengajarkannya sebaik mungkin. Berdoa dengan sungguh2, mengalami Tuhan dalam doa dan mengajak jemaat berdoa. Dan terakhir, untuk melakukan semuanya tidak demi keuntungan pribadi, tidak demi apapun, tapi demi kasih kepada Tuhan dan kepada saudara, jemaat Tuhan. Dan kami berjanji untuk menaruh jemaat Tuhan di dalam hati kami.

Demi nama Tuhan, saya minta, ingatkanlah kami para hamba Tuhan untuk menjadi pelayan Firman. Tegurlah kami ketika kami sibuk mengerjakan segala sesuatu yang lain tapi mengabaikan pelayanan Firman Allah. Mintalah untuk kami belajar dan mengajarkan Firman. Dan doakanlah kami agar urapan Tuhan dan kuasa Tuhan sungguh dicurahkan untuk kami. Dan kiranya berkat Tuhan dicurahkan untuk gerejaNya. Amin.

Sabtu, 17 Desember 2011

Hidup Orang Percaya yang Berkomunitas


              Hari ini kita mau kembali merefreshing penting ga sih komunitas buat kita?Dalam hal ini, komunitas persekutuan pemuda kita di Methodis Imanuel (P3MI). Btw kalau penting, mengapa? Apa gunanya buat kita? (seharusnya apa yg telah kita berikan buat P3MI).
            Village Hall = Town Hall, tempat untuk berkumpul di kota-kota besar. Bisa untuk apa saja. P3MI apakah “hanya” seperti Village Hall? Apakah berkumpul (bersekutu) ada makna, tujuan dan hasilnya? Makanya ada tercatat dlm PIR: aq percaya: Gereja yg kudus dan Am, (sebagai) persekutuan orang kudus

            Makna-Dasar kita bersekutu:
1. It’s all from GOD
Secara alkitabiah said that we all are from God, so our characteristic is from God. Alasan pertama mengapa kita bersekutu adalah karena Allah pun juga adalah pribadi yang berelasi. See Kej 1:26; 2:18-22 (Allah pribadi yang sosial).
Kita adalah pribadi yang diciptakan memiliki kebutuhan untuk berelasi, baik itu berelasi dengan Tuhan dan sesama kita.
Kej 1:27, menurut gambar dan rupa Allah (Kita)-> satu2nya makhluk yang diciptakan serupa dengan gambaran Allah. Yaitu manusia diciptakan dalam kemiripan dengan Allah. Dalam hal apa Manusia memiliki ciri2 karakteristik yang menunjukkan kemiripan dengan Allah. Diantaranya adalah:
a. Allah: pribadi yg berpikir-manusia: makhluk berpikir
b. Allah: makhluk spiritual-manusia: makhluk spritual-makhluk roh.
c. Allah: makhluk moral yang tinggi-manusia: memiliki nilai moralitas, sehingga tahu mana yang benar dan salah.
d. Allah: pribadi yang berelasi di dalam pribadi Allah Tritunggal, manusia diciptakan untuk berelasi
            We can’t have a intimacy relation with animal, just with God and human (kej 2:18), dialog not monolog.

            Jadi sebenarnya tidak ada seorang pun yang dapat hidup sendirian. Tuhan menciptakan kita sedemikian rupa sehingga kita memerlukan sesama kita.
Bandingkan dengan pemahaman mengenai Kerj. Sorga: konsep relasi antara manusia dengan Allah yang terkadang digambarkan dengan relasi manusia dengan sesamanya (Co: ayah dan anak sulung dan bungsu; mempelai pria dan wanita). Juga makna 10 Hk. Taurat; salib -> Mengasihi Allah dan Mengasihi sesama (wujud).
                       
2. We have relation through & in Christ = the body of Christ (Christ is the head). We were enemy, but now we are living as family=CHURCH (P3MI, PRMI, dll).
We are in the family of God-eternal (Kej 2:7; Yoh. 1:12-13; 3:3; 15:5-Akulah Pokok Anggur dan kamulah ranting-rantingnya; Rm 12:5-Kristus menjadikan kita satu tubuh…berhubungan satu dengan yang lain) vs family of humanity-temporary.
Kita mendapatkan fasilitas: nama Keluarga: anak2 Allah (1 Yoh 3:1); keserupaan keluarga serupa dengan Kristus (Rm. 8:29); hak istimewa keluarga: anak, ahli waris (Gal. 4:6-7); kedekatan hubungan keluarga (Rm 5:2) dan warisan keluarga: keselamatan hidup kekal (1 Pet 1:3-5).



Paulus: menjadi anggota gereja berarti menjadi organ penting dari suatu tubuh yang hidup, suatu bagian yg sangat diperlukan dan saling terkait dari tubuh Kristus.

Bersekutu: berhubungan-berelasi sebagai sesama anggota keluarga Tuhan (1 Kor 12:12-26). Bdk dengan konsep PL UMAT Allah = ANAK-ANAK Allah = GEREJA = Persekutuan orang percaya
Persekutuan (Yunani, koinonia: berbagi dan menekankan kesatuan dari gereja). Gereja mula2 berkumpul dengan memecahkan roti dan berdoa, table fellowship
Community (kumpulan masy)-commune (kelomp yg hidup bersama).

3. Tujuan Bersekutu untuk menyatakan kemuliaan Tuhan.
(Kutipan dari buku Kambium) Bersekutu merupakan sarana kasih karunia Tuhan utk (dari sisi manfaat P3MI buat saya):
a.Persaudaraan yang mendorong dan meneguhkan (Ibr 10:24-25). Pembentukan kerohanian dan karakter.
Tidak dipungkiri, tidak semuanya kita bisa nyambung satu sama lain..namun kita belajar untuk berelasi dengan sesama.
Tidak dipungkiri ada gesekan (Semakin dekat pasti akan muncul gesekan = keluarga). Hal ini disebabkan ada perbedaan, namun bukan fokus kepada perbedaannya tapi bagaimana melihat perbedaan tersebut ada suatu kesatuan yang mengikat di dalam status persaudaraan di dalam Kristus (Kasih, Iman, Pengharapan yang sama).
        b.Pengajaran yang mengubahkan dan menumbuhkan (Ef 4:11-16): persekutuan orang kudus di dalam dunia untuk menghidupi hidup yg baru sebagai anak-anak Allah di dalam keluarga Allah ini di dalam ketekunan (Live the Life as Christian) Memperlengkapi orang2 kudus bagi pekerj pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus.
c.Penyembahan yang mengarahkan hati pada kemuliaan Tuhan (1 Taw 16:29). Bersama-sama menyembah dalam ibadah raya.
d.Pelayanan yang memenuhi kebutuhan dan menjadi kesaksian bagi sesama (Yoh 13:34-35)

Co dalam Bible: Kel 17:8-16 (Musa dibantu teman2nya bersama Harun, Hur dan Joshua; Pengkh 4:9-12 (lebih baik berdua daripada sendiri); Mark 6:6b (Yesus dan 12 murid; mengutus murid2Nya berdua-dua); Roma 12:4-5; Paulus dan rekan2 (Silas, Barnabas, Timotius-lih salam2 di akhir surat Paulus): minta didoakan dll.

Dalam buku Kambium mencatat beberapa hal praktis: How to bersekutu? Dari sisi saya buat P3MI
1. Komitmen LIHAT, bersedia tuk coba melihat
2. Komtemen DATANG, rutin
3. Komitmen TUMBUH, mencari dan menggunakan kesempatan yang ada utk bertumbuh mell: SaTe, PA, pembinaan, PDoa, komsel / KK, pelayanan dll
4. Komitmen LAYANI, mencari dan menggunakan kesempatan yg ada tuk menolong orang lain bertumbuh mell: kesaksian, sharing, encouragements dll

Apa yg dperlukan utk membangun Komunitas yg sesungguhnya:
FOKUS to JESUS and berdampak keluar pada komunitas. Perhatikan: Rm 12:16 sehati sepikir; 1 Kor 1:10 Seia sekata; Fil 1:27 berpadanan dengan Injil Kristus; Fil 2:1-5

Paulus: persekutuan menekankan fakta bahwa orang percaya saling memiliki (kata “satu sama lain”). Krn persekutuan dalam Kristus, Paulus memerintahkan orang percaya utk: menerima satu sama lain (Rm 15:7), saling mengasihi (Ef 4:2, 15, 16; 5:2) menahan diri utk saling menghakimi (Rm 14:3, 13), saling membangun (Rm 14:19), dipersatukan (Rm 15:5), dan saling mengingatkan (Rm 15:14)

            Aplikasinya: 1. saling jujur dan terbuka; 2. Saling percaya dan memegang rahasia (ga ember); 3. Saling rendah hati dan mengampuni; 4. Kuantitas dan kualitas waktu bersama (fellowship). Bedakan ya dengan wakuncar (Waktu untuk Pacar)
Bukan hanya sekedar say hai (basa-basi) tp bermakna dalam perkataan.
            Hidup bersama memerlukan kemampuan toleransi yang tinggi antara satu dengan yang lain, perlu saling menghargai, saling menopang dan saling menghormati. Bahkan melalui hidup bersama di tengah-tengah komunitas ini pertumbuhan rohani kita diuji dengan ketat sekali untuk memperlihatkan buah Roh Kudus (Gal. 5:22-23). Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya (Ams. 27:17).

Konsep Sense of Belonging
Saya mengutip tulisan seorang mantan pembina saya di Pemuda dari blognya (jeffreysiauw.blogspot.com) Ia menuliskan apa yang telah ia baca di dalam salah satu buku (Komunitas Alternatif: Hidup Bersama Menebarkan Kasih, Penerbit Kanisius), ketika sampai pada kalimat sense of belonging, penerjemah buku tersebut memberikan catatan kaki: “Biasanya sense of belonging diterjemahkan secara keliru dengan rasa memiliki.
 Sebenarnya, sense of belonging adalah rasa dimiliki, artinya seseorang merasa dirinya diterima di dalam komunitas dan diakui sebagai bagian dari suatu komunitas hidup”. Secara terjemahan, memang itulah terjemahan yang tepat! Terjemahan yang berbeda itu akan merubah cara berpikir kita.
Seringkali ketika membicarakan tentang komunitas atau persekutuan, kita menyebut istilah rasa memiliki. Maksudnya adalah perasaan mengasihi persekutuan tersebut, perasaan bahwa dia punya tanggung jawab atas persekutuan tersebut, perasaan bahwa dia tidak rela persekutuan itu hancur. Karena apa? Karena dia punya rasa memiliki.
Maka kita ingin supaya orang-orang dalam persekutuan punya rasa memiliki persekutuan tersebut supaya mereka mau berjuang untuk persekutuan itu. Bagaimana caranya? Entahlah. Mungkin kita melibatkan mereka dalam berbagai aktifitas (supaya mereka merasakan berjuang untuk persekutuan itu), mungkin melibatkan mereka dalam acara kebersamaan (supaya mereka akrab dan senang dengan persekutuan itu) atau mungkin mengajak mereka berdoa untuk persekutuan itu (supaya persekutuan itu lekat dalam hati mereka). Pada intinya kita berjuang supaya mereka menjadikan persekutuan itu sebagai milik mereka.
Tetapi ketika kita mengubah terjemahan sense of belonging menjadi rasa dimiliki, seluruh arti menjadi berbeda.
Kita bukan berjuang supaya setiap orang dalam persekutuan merasa memiliki persekutuan, tetapi supaya mereka merasa dimiliki oleh persekutuan itu. Mereka merasa dianggap bagian dari persekutuan itu, merasa dikasihi, merasa dijadikan anggota keluarga. Bandingkan: memiliki Tuhan atau milik Tuhan; memiliki keluarga atau milik keluarga.
Mungkin kegiatan yang kita lakukan tetap sama, tetapi seluruh arah akan menjadi berbeda.

Kesimpulannya:
1. Kita semua dimiliki oleh Tuhan, dimiliki oleh P3MI…kita adalah keluarga Allah, keluarga P3MI
2. Jika kita belum banyak menerima berkat dari P3MI > ikut dan datang lebih rutin,
3. tp jika kita sudah menerima banyak, mari kita memberikan kembali buat P3MI
4. Bagikan juga kepada yg belum ikut, berkat sukacita yg kita dapatkan.



Rabu, 30 November 2011

Tangisan Kehidupan


Refleksi Advent 1 Matius 2:16-18.
Tangisan bayi atau seorang anak bagi beberapa orang mungkin akan sangat mengganggu, tapi bagaimana jika dilihat dari sisi orangtuanya. Tentu tidak bukan, karena tangisan dari anak miliknya akan menunjukkan bahwa bayinya sedang dalam keadaan hidup. Seorang bayi yang sedang menangis menunjukkan dirinya sedang dalam keadaan membutuhkan perhatian dari orangtuanya, karena ia belum bisa berbicara. Suatu tangisan yang sering digambarkan sebagai suatu ungkapan seorang manusia ketika ia pertama kali datang ke dunia yang penuh dengan dosa dan penderitaan. Suatu tangisan yang menggambarkan adanya suatu kehidupan yang baru.
Demikian pula tangisan yang terjadi di kota Betlehem 2000 tahun yang lalu. Tangisan anak-anak di kota Betlehem yang dicatat oleh penulis kitab Matius, di dalam Matius 2:16 mengusik perhatian saya. Peristiwa ini terjadi, setelah raja Herodes pada waktu itu menyadari bahwa dirinya telah diperdaya oleh orang-orang Majus. Orang-orang Majus ternyata tidak membawa Herodes untuk menemukan Yesus, sang Anak yang dinubuatkan menjadi Raja Israel (lih. Mat. 2:5-8; 12). Hal ini yang membuat Herodes menjadi marah dan mengambil keputusan untuk semua anak di Betlehem dan daerah sekitarnya (anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah).
Jikalau kita sebagai pembaca dan ada pada saat itu, tentu kita akan merasa sangat sedih dan bertanya kenapa Allah membiarkan hal itu terjadi. Seakan-akan Allah tidak mengasihi dan memelihara anak-anak itu dan membiarkan mereka mati. Sementara bagi para orangtua, terjadi begitu kesedihan yang sangat mendalam, karena mereka harus kehilangan anak-anak mereka, buah hati mereka. Sebelum terjebak dengan pemahaman bahwa Allah yang jahat dan tidak peduli, mari bersama-sama kita perhatikan keseluruhan bagian perikop ini.

Kalau kita lihat di ay 13-15, maka kita bisa melihat bahwa dari bagian inilah penulis ingin menunjukkan bahwa Allah tetap ada dan hadir. Allah diwakili dengan sosok malaikat Tuhan yang menyertai Yusuf, Maria dan Sang Anak (Yesus). Allah berdaulat - memegang kendali memelihara keselamatan keluarga ini. Allah tetap hadir dalam sejarah manusia. Di ay. 15 bahkan ditekankan lagi, bahwa Yusuf, Maria dan Yesus tinggal di sana (Mesir) hingga Herodes mati.
Dilanjutkan di ay. 19-23; yang menunjukkan kembalinya keluarga Yusuf setelah Herodes mati. Yusuf sekeluarga kembali ke Israel, dan tinggal di Nazaret. Perhatikan di ayat 20b, “…karena mereka yang hendak membunuh Anak itu sudah mati.”
Kedua bagian di atas menunjukkan bahwa Allah tetap bekerja pada bagian ini. Kita seringkali lebih memilih untuk terjebak di bagian yang lebih fenomena (besar). Dalam hal ini, adalah kematian dari beberapa anak di Betlehem (jumlahnya sekitar 10-30an; hal ini terkait dengan keadaan kota Betlehem yang kecil dalam hal jumlah penduduknya). Namun dari big picture ini, ternyata ada kisah kecil yang seharusnya menjadi fokus utama yaitu pemeliharaan dan penyertaan Allah terhadap Sang Anak (Yesus) dan orang tuanya. Allah secara tak terlihat, menjadikan semua rencana karya keselamatan melalui Yesus Kristus semakin digenapi.

Bagaimana dengan kematian anak-anak seusia Yesus di Betlehem. Saya mencoba memberikan komentar, bahwa peristiwa ini tetap ada di dalam kedaulatan Allah. Artinya Allah di dalam kedaulatan-Nya (kendali), melalui kematian anak-anak itu menunjukkan perbuatan jahat dari Herodes. Perbuatan jahat Herodes yang ingin menggagalkan rencana Allah.
Herodes memang dikenal memiliki ketakutan (paranoid) terhadap orang lain yang mau menyaingi dan merebut kekuasaannya. Hal ini mewakili dosa salah satu manusia, yang ingin memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Bahkan secara lebih luas, manusia pertama yaitu Adam yang berusaha ingin memiliki kekuasaan yang sama dengan kekuasaan Allah.
Selain itu melalui peristwa ini, Allah juga menunjukkan pemeliharaan-Nya terhadap Yesus dan orangtuanya yang terhindar dari ancaman kematian dari Herodes. Peristiwa ini mirip dengan peristiwa kematian bayi-bayi orang Israel pada zaman kelahiran Musa di Mesir. Di dalam peristiwa tersebut, juga menunjukkan kehadiran, kedaulatan dan kendali Allah di dalam terselamatkannya Musa dari antara bayi-bayi yang diperintahkan untuk dibunuh oleh Firaun. Saya tidak akan membahas mengenai keselamatan para bayi tersebut di refleksi ini, walaupun saya percaya bahwa selamat tidaknya mereka ada di dalam kedaulatan dan keadilan Allah.
Gambaran secara luas, dapat kita tarik bahwa di tengah-tengah penderitaan dan penganiayaan yang disebabkan oleh dosa; Tuhan memberikan secercah cahaya pengharapan melalui tidak ditemukan dan tidak terbunuhnya sang Anak, Yesus. Karena melalui Yesuslah, nanti Allah akan menggenapi janji pembebasan dan keselamatan dari dosa terhadap umat Israel dan seluruh umat umat manusia. Karya penyelamatan Allah terhadap Yesus dan orang tuanya sengaja disajikan dan dibandingkan dengan peristiwa pembunuhan anak-anak dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa karya Allah lebih besar dari usaha manusia.

Pelajaran yang bisa diambil dari refleksi ini adalah kita bisa menemukan janji penyertaan Allah yang digenapi dalam peristiwa kematian beberapa anak di Betlehem. Allah yang menjanjikan adanya seorang Juruselamat, melalui Yesus Kristus; tidak dapat digagalkan oleh rencana jahat manusia (Herodes). Janji Allah untuk hal itu mulai terancangkan, di awal kehidupan Yesus Kristus.
Tangisan anak-anak di satu sisi dianggap sebagai sebuah kejahatan, namun di sisi secara global (big picture) menunjukkan ada karya pemeliharaan Tuhan -> rancangan keselamatan umat manusia di dalam Yesus Kristus.
Hal ini pula yang harus kita pegang sebagai anak-anak Tuhan bahwa Allah selalu menyertai setiap umat-Nya hingga kedatangan-Nya yang kedua kali nanti. Tidak hanya pemeliharaan Tuhan, namun Allah berdaulat dalam seluruh kehidupan umat manusia di bumi ini, walaupun ada kejahatan sekalipun. Kejahatan yang Tuhan ijinkan terjadi pun adalah untuk menunjukkan bahwa inilah kehidupan dalam dunia yang berdosa.
Saya teringat suatu kesaksian dari Bill Gaither yang menciptakan lagu Because He Lives. Ia menciptakan lagu itu ketika ia merasa khawatir akan kelahiran anaknya. Namun ketika anaknya lahir dan menangis, ia merasa ketakutan itu pun menjadi hilang. Tangisan bayi itu menyadarkan dia bahwa bayinya hidup. Tangisan itu juga menyadarkan dia bahwa keberadaan kita sebagai manusia adalah kecil dan tak berdaya, di tangan Tuhan. Melalui tangisan itu ia sadar bahwa hidup manusia ada di tangan Tuhan. Walaupun ada kesulitan dan penderitaan, namun tetap ada pengharapan di dalam Yesus Kristus. Pengharapan yang ditunjukkan melalui kemenangan-Nya atas dosa dan maut dengan kebangkitan-Nya pada hari ketiga.
Tuhan yang telah mati, namun Ia bangkit untuk menyatakan jaminan akan adanya hari esok. Jaminan akan adanya keselamatan hidup kekal bagi setiap manusia yang mau datang, bertobat dan percaya kepada nama Yesus.
Mari bersama-sama kita menggunakan waktu minggu Advent ini dengan baik-baik untuk merenungkan makna Natal bagi kita, umat percaya yang sedang menantikan Dia juga akan datang kedua kalinya ke dunia.