Kamis, 29 November 2012

How to Glorify God at Work


 
Shalom, 
sy ingin membagi berkat (silakan di-share kembali jika itu menjadi berkat dan jangan lupa rujukan footnotenya dari artikel John Piper) melalui artikel dari Pdt. John Piper yang saya download dari homepagenya:




by John Piper | September 6, 2011
  



Just home from two weeks in Australia, I am brimming with thankfulness to God for his people there, and for the pleasures of working with them in Brisbane and Sydney and in the mountains of Katoomba.

One of the conferences was called Engage. It was focused on “young workers,” which, in their lingo, means young professionals in the workplace. I was asked in an interview if I thought this focus was a good idea. I said yes, because of 1 Corinthians 10:31, “Whether you eat or drink, or whatever you do, do all to the glory of God.”

So they asked: How can young workers glorify God at work? Here’s the gist of my answer.

Dependence. Go to work utterly dependent on God (Proverbs 3:5-6; John 15:5). Without him you can’t breathe, move, think, feel, or talk. Not to mention be spiritually influential. Get up in the morning and let God know your desperation for him. Pray for help.

Integrity. Be absolutely and meticulously honest and trustworthy on the job. Be on time. Give a full day’s work. “Thou shalt not steal.” More people rob their employers by being slackers than by filching the petty cash.

Skill. Get good at what you do. God has given you not only the grace of integrity but the gift of skills. Treasure that gift and be a good steward of those skills. This growth in skill is built on dependence and integrity.

Corporate shaping. As you have influence and opportunity, shape the ethos of the workplace so that the structures and policies and expectations and aims move toward accordance with Christ. For example, someone is shaping the ethos of Chick-fil-A restaurants with this video.

Impact. Aim to help your company have an impact that is life-enhancing without being soul-destroying. Some industries have an impact that is destructive (e.g., porn, gambling, abortion, marketing scams, etc). But many can be helped to turn toward impact that is life-giving without being soul-ruining. As you have opportunity, work toward that.

Communication. Work places are webs of relationships. Relationships are possible through communication. Weave your Christian worldview into the normal communications of life. Don’t hide your light under a basket. Put it on the stand. Winsomely. Naturally. Joyfully. Let those who love their salvation say continually, Great is the Lord! (Psalm 40:16)

Love. Serve others. Be the one who volunteers first to go get the pizza. To drive the van. To organize the picnic. Take an interest in others at work. Be known as the one who cares not just about the light-hearted weekend tales, but the burdens of heavy and painful Monday mornings. Love your workmates, and point them to the great Burden Bearer.

Money. Work is where you make (and spend) money. It is all God’s, not yours. You are a trustee. Turn your earning into the overflow of generosity in how you steward God’s money. Don’t work to earn to have. Work to earn to have to give and to invest in Christ-exalting ventures. Make your money speak of Christ as your supreme Treasure.

Thanks. Always give thanks to God for life and health and work and Jesus. Be a thankful person at work. Don’t be among the complainers. Let your thankfulness to God overflow in a humble spirit of gratitude to others. Be known as the hope-filled, humble, thankful one at work.

There are more things to say about glorifying God in the workplace. But this is a start. Add to the list as God gives you light. The point is: Whatever you do, whether you eat or drink or work, do all to make God look as great as he really is.

Kamis, 19 April 2012

You are my all in all



You are my strength when i am weak
You are the treasure that i seek
You are my all in all

Seeking You as a precious jewel
Lord to give up i’d be a fool
You are my all in all

Reff
Jesus lamb of god, worthy is Your name
Jesus lamb of god, worthy is Your name

Taking my sin, my cross my shame
Rising again i bless Your name
You are my all in all

When i fall down, You pick me up
When i am dry, You fill my cup
You are my all in all

Terima kasih Tuhan, Engkau mau memilih, memanggil saya untuk diselamatkan.
Terima kasih Tuhan, karena Engkau mau memakai saya sebagai alat-Mu untuk melayani-Mu dan menjadi berkat bagi sesama.
Terima kasih Tuhan, Engkau mau selalu sabar sama saya padahal saya sering menyakiti-Mu. Engkau mau memahami, menerima saya apa adanya.
Terima kasih karena Engkau mengganggap saya berharga dan bernilai bagi mu.
Terima kasih karena Engkau mau memaafkan saya ketika terjatuh dalam dosa, tidak hanya itu bahkan Engkau melupakan (tidak memperhitungkan) kesalahan saya.
Terima kasih Engkau mau mendengar segala keluh kesah saya.
Terima kasih karena Engkau mau menopang dan menuntun saya ketika saya berada di lembah kekelaman dengan tongkat dan gadamu (masalah, pergumulan yg berat sekalipun). Memberi kekuatan ketika saya sedang membutuhkannya, entah itu melalui Roh Kudus, Firman-Mu atau bahkan melalui sesama di sekitar kehidupan saya (ortu, rekan atau sahabat).
Terima kasih karena Engkau masih mau mengingatkan, menegur saya dengan tongkat gembala-Mu.
Ajar saya terus agar saya boleh hidup sesuai dengan kehendak-Mu. Itu semua adalah pembentukan-Mu yang pastinya akan berguna buat saya untuk semakin lagi serupa dengan Engkau…semakin berkenan bagi-Mu.

Terima kasih atas segalanya. You are my all in all
Terpujilah nama-Mu. Mulialah nama-Mu. Worthy is Your name.

Selasa, 03 April 2012

Jangan asal ngomong “Kepo”


Tulisan ini ditujukan untuk semua orang percaya dari seluruh golongan usia. Kata kepo pada saat ini, tidak hanya menjadi trend di kalangan para anak muda; namun juga sering dilontarkan oleh beberapa kalangan dewasa.

Namun yang menjadi perhatian saya, sebagai seorang Hamba Tuhan adalah ketika penggunaan kata “Kepo” ini yang terkadang terkesan sembarangan dan tidak sesuai dengan fungsi awalnya. Semua orang yang bertanya seakan-akan terkesan ingin tahu dan mengorek-mengorek sesuatu, tanpa melihat motivasinya sudah langsung dijudge sebagai orang kepo. Padahal mungkin dari pihak si penanya, ia tidak ada maksud ingin tahu semua keadaan orang itu (bahkan menjadi orang yang sok tahu).

Hal-hal semacam inilah yang ingin coba saya berikan berupa pertimbangan mengenai pemahaman kata kepo untuk lebih diperhatikan lagi dalam penggunaannya.


Di bawah ini, saya sajikan beberapa pendefinisian kata kepo, yang saya ambil dari internet:
Kata “Kepo” menurut kamus kitab gaul (http://kitabgaul.com/word/kepo) berasal dari kata Hokkian, yang berasal dari 2 kata yaitu ke dan po (apo). Ke artinya bertanya dan Po (Apo) artinya nenek-nenek. Artinya secara jelas adalah merujuk kepada kebiasaan orangtua (nenek dan kakek juga) yang sering bertanya ingin tahu keadaan anak atau cucunya.

Kata ini juga ditujukan kepada orang yang ingin tahu sesuatu ketika ia mendengar sesuatu, dimana ketika ia menjawab sebenarnya ia sedang tidak diajak berbicara pada saat itu. Ga minta dibantu, eh malah bantu; ga ditanya eh malah pasang gaya pingin kasih tau.

Bahkan ada yang mengistilahkannya dengan bahasa Inggris, yaitu KEPO = Knowing Every Particular Object (selalu pingin tahu dan mengetahui segala sesuatu).


Friends, dari definisi ini maka dapat kita tarik beberapa hal yang bisa menjadi suatu pertimbangan mengapa terjadi penyalahgunaan kata ini di dalam percakapan kita sehari-hari. Saya akan berikan salah satu contoh ilustrasinya.
Ada seseorang hamba Tuhan yang merasa tersinggung ketika seorang remaja (bisa juga dialami oleh seorang jemaat) mengatakan bahwa ia adalah seorang yang kepo, karena hamba Tuhan ini sering bertanya-tanya mengenai keadaan anak remaja ini.
Dari sisi anak remaja ini merasa bahwa hamba Tuhan ini sangat mengganggu privasinya, sehingga seakan-akan mengorek keadaan pribadinya. Sedangkan dari sisi hamba Tuhan ini, ia merasa bahwa ini adalah sebagian dari tugas penggembalaannya untuk mengetahui keadaan anak remajanya.

Nah, dari ilustrasi ini dapat kita tangkap permasalahannya, bukan? Mau tidak mau, kita sekarang hidup di zaman postmodern yg menekankan suatu pandangan relativisme. Suatu pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada kebenaran yang absolut, yang ada adalah kebenaran menurut penilaian pribadi (relatif-selera) masing-masing.

Inilah yang sering terjadi di beberapa kalangan yang merasa bahwa penilaiannya adalah sebuah kebenaran. Memang tidak bisa langsung menjudge sesuatu karena masing-masing case harus dilihat dari beberapa aspek.

Pemikiran seorang remaja atau jemaat yang tidak mau diperhatikan atau ditanya-tanya oleh seseorang jemaat lain atau oleh hamba Tuhannya akan memakai alasan penggunaan kata kepo ini untuk self-defense. Ia tidak mau tahu bahwa orang yang sedang bertanya ini, mungkin ada maksud yang baik. Bukankah seharusnya kita juga harus bisa memahami orang lain, dengan cara belajar melihat sesuatunya diimbangi dengan melihat dari sisi orang lain (melihat dari kacamata orang lain). Mungkin saja dari pihak si penanya, memang ingin tahu dan mengenal orang yang ditanya. Atau mungkin saja dari pihak yang ditanya, memang memiliki karakter yang agak tertutup sehingga sangat sulit untuk ditanya.

Intinya adalah apakah seseorang yang dianggap kepo (ingin tahu) memiliki motivasi yang benar, terlebih jika hal ini terjadi di dalam sebuah komunitas orang percaya. Suatu pertanyaan jika didasari atas motivasi dan tujuan yang benar seharusnya dapat disikapi dengan jawaban yang benar juga.
Bagi si penanya, tentu saja suatu pertanyaan yang diberikan, dengan motivasi yang tulus dan bertujuan untuk mengenal dan peduli, tentunya juga akan diwujudkan dengan pertanyaan yang bukan seperti mengorek-ngorek rahasia pribadi orang lain.

Jadi masing-masing pihak juga harus mendasari apa yang dilakukannya dengan tujuan yang benar. Saya bisa berikan usulan, yaitu bertujuan untuk saling membangun, membentuk dan memperhatikan sebagai satu kesatuan TUBUH KRISTUS (ingat 1 Kor 12:25, 27).

1 Korintus 12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
1 Korintus 12:27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.

Jadi alangkah baiknya kalau kita sembarangan memberikan cap kepo kepada seseorang yang sedang bertanya-tanya kepada kita. Di satu sisi, ketika kita bertanya pun kita harus bertanya dengan motivasi dan tujuan yang benar dan tulus juga. Contohlah apa yang Tuhan Yesus lakukan ketika ia dengan sengaja dan mau bercakap-cakap dengan perempuan Samaria di Yohanes 4:4-30 (perhatikan latar belakang permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria).

Mungkin kalau saya melihat dan merasakan dari sisi perempuan Samaria, saya juga akan mencap bahwa Yesus adalah orang yang kepo. Untuk apa Yesus sebagai orang Yahudi mengajak berbicara dirinya sebagai seorang perempuan Samaria dan bahkan melihat statusnya sebagai perempuan berdosa (ditafsirkan pekerjaannya adalah seorang perempuan berdosa, kasarnya pekerja seksual). Tidak hanya itu, bahkan Yesus menyuruh-nyuruh dirinya untuk memanggil suaminya, yang notabene kita tahu status perempuan ini adalah perempuan dengan status memiliki suami lebih dari satu.

Tapi kita tahu sama-sama bahwa akhirnya melalui perempuan Samaria ini, ternyata Yesus melakukannya dengan motivasi dan tujuan yang memuliakan Allah Bapa-Nya di Sorga. Melalui perempuan ini, tidak hanya memenangkan jiwanya (diampuni dan diselamatkan) tetapi juga bahkan mengajak orang lain untuk datang, bertemu dan mengenal Kristus. Hal inilah yang harus kita teladani dari dua pribadi ini. Dari pribadi Kristus yang mau menjangkau dan peduli dengan orang lain sambil menceritakan tentang Allah; dan pribadi perempuan Samaria yang tidak bersifat tertutup dengan pemikiran sempitnya tentang orang Yahudi maupun tentang orang lain yang mau bercakap-cakap dengan dirinya, yang seakan-akan menyinggung masalah pribadinya yang paling dalamnya.

Jika perempuan ini memandang bahwa Yesus adalah kepo, maka ia sudah terlebih dahulu menutup pintu hatinya untuk mengenal Mesias, penyelamat yang dinubuatkan itu. Jadi janganlah sembarangan kita memiliki pemikiran yang sempit tentang orang lain yang bertanya dan ingin mengenal kita lebih dalam sebagai orang yang kepo. Padahal orang itu bertanya dengan motivasi hati dan tujuan yang tulus. Yakobus pun juga mengingatkan untuk berhati-hati menggunakan lidah kita dalam berkata-kata (bandingkan perumpamaan: mulutmu adalah harimaumu).

Selamat merenungkan dan jika ada yang kurang berkenan atau tidak setuju, boleh kita saling memperlengkapi satu sama lain dengan diskusi yang membangun. Blessings.


Jumat, 23 Maret 2012

I’m Funholic in Funtastic Team (Peranku dalam sebuah Komunitas)

(Ini adalah tulisan refleksi dan renungan untuk rekreasi Pemuda GMI Imanuel)
Pentingnya persahabatan, pertemanan, dan komunitas ternyata juga disadari oleh dunia. Salah satunya seperti yang ditulis oleh seorang tokoh kaisar Romawi, yaitu Cicero. Ia juga terkenal sebagai seorang pemikir besar, juga memiliki keahlian berpidato, pengacara, politisi, ahli bahasa dan penulis. Tulisan kutipannya yang terkenal mengenai pertemanan: “friendship improves happiness and abates misery, by the doubling of our joy and the dividing of our grief” (Pertemanan memperbaiki kebahagiaan dan meredakan-mengurangi kesengsaraan, dengan cara menggandakan rasa sukacita kita dan membagi kesedihan [duka, luka] kita). Inilah yang dinamakan keuntungan yang ganda, menambah sukacita dan mengurangi beban kehidupan kita. Teman dan sahabat berfungsi sebagai seseorang sahabat yang dipercayai, penasehat dan orang yang bisa membagi beban hidup.
 Hal ini menunjukan betapa pentingnya persahabatan dan komunitas (baik sesama orang percaya maupun dengan yang belum percaya), namun tentunya memiliki dasar pemahaman yang berbeda bagi setiap orang percaya. Bagi orang Kristen, makna persahabatan dan komunitas tidak bisa dilepaskan dari kasih Allah kepada manusia melalui karya keselamatan Yesus Kristus.
Dalam buku Life Together, Dietrich Bonhoeffer merefleksikan arti dari komunitas Kristen, yaitu “Christianity means community through Jesus Christ and in Jesus Christ…we belong to one another only through and in Jesus Christ (p. 21). Secara eksplisit berarti bahwa  seorang Kristen memerlukan sesamanya orang percaya hanya di dalam Yesus Kristus; dan bahwa kita sudah dipilih dari kekekalan, menerima pada waktunya, dan dipersatukan untuk kekekalan hanya melalui Yesus Kristus.
         Ada konsep kesatuan dalam pendefinisian arti komunitas Kristen di sini. Inilah yang seharusnya menjadi pondasi yang kokoh yang boleh dibangun menjadi komunitas pemuda-pemudi Kristen yang sehat, yang bertumbuh dan saling mengasihi di dalam dasar kasih Kristus.
            Dasar persekutuan, komunitas maupun persahabatan kita adalah kasih Kristus. Dalam Yesus dan firman-Nya kita menemukan definisi dan motivasi kasih yang benar. Kita tidak mengasihi orang lain karena adanya keharusan, atau karena rasa takut sendirian. Kita juga tidak secara otomatis memiliki kasih dalam diri kita untuk mengasihi orang-orang yang tidak kita kasihi. Kita mengasihi karena kita telah dikasihi oleh Allah terlebih dahulu (Yoh. 3:16; 1 Yoh).
            Kita memberikan kasih sebagai respon dari kasih yang telah kita terima. Sadar bahwa kasih kita begitu terbatas, begitu dangkal, mudah berakhir pada waktu kita tidak dinilai atau diberlakukan dengan cara yang tidak kita inginkan seharusnya membuat kita bergantung total pada anugerah kasih Kristus.
Hidup manusia sebagai ciptaan memang direncanakan Tuhan Sang Pencipta, untuk tidak hanya memiliki suatu relasi dengan Dia saja tetapi juga berelasi dengan sesamanya manusia. Suatu relasi dengan sesama manusia yang ditunjukan melalui adanya suatu komunitas-komunitas yang hadir di dalam seluruh kehidupan manusia, yang biasanya tidak disadari (keluarga, sekolah, kuliah, gereja, kantor dll). Berarti hidup kita bukan untuk isolasi diri sendiri, melainkan hidup di dalam komunitas.
Peran kita sebagai orang Kristen tidak hanya berperan di dalam komunitas orang percaya, namun juga di dalam komunitas yang terdiri dari orang-orang belum percaya.

      Ada tiga peran kita sebagai orang percaya, yang harus kita jalani di dalam hidup berkomunitas. Berkomunitas baik di dalam komunitas orang percaya maupun komunitas orang tidak percaya.
1. Hidup dalam komunitas orang percaya yang bersatu (Yoh 17).
Kita terlebih dahulu harus memahami komunitas yang bersatu di dalam (kasih) Tuhan. Hal ini seperti yang telah Tuhan Yesus lakukan, berdoa supaya kita menjadi satu sama seperti Bapa dan Dia adalah satu. (unity in diversity). Komunitas yang tidak membeda-bedakan satu sama lain, walaupun berbeda.
Fokusnya adalah harus sehati, sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepeningan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain leboh utama dari pada dirinya sendiri. Hendaklah dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Fil. 2:2-5). Co: Yesus dan murid-muridNya; Paulus dan rekan-rekan sekerjanya (Timotius, Tikhikus, Onesimus, Epafras, Lukas, Aristarkhus-Markus-Yesus/Yustus 1 Tes 4:10-14)

2. Hidup dalam komunitas yang saling berbagi, menolong, memberi (Pengkh 4:9-12) dan saling membentuk (Ams. 27:17 besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya)
Konteks di Pengkotbah adalah ketika seseorang sedang melakukan perjalanan menempuh padang gurun, yang pada waktu itu terjatuh dan masuk lubang yang merupakan perangkap binatang.
Ayat 11 menunjukan contoh kedua bagaimana berdua lebih baik, ketika sedang dalam keadaan tidur. Kehangatan yang dikeluarkan melalui tubuh temannya dapat menghangatkan kedinginan yang sedang dialami.
Ayat 12 menunjukkan adanya kekuatan ketika berada dalam kondisi berdua daripada sendirian. Kekuatan dalam hal jumlah, ketika seseorang sedang mengalami suatu krisis atau masalah. Akan lebih mudah diselesaikan ketika terjadi solidaritas (perhatian) dari adanya teman yang membantu.
Co: Musa dan keempat rekannya di dalam peperangan Amalekh. Joshua memimpin perang, Harun dan Hur membantu menopang tangan Musa yang sedang diangkat (Kel 17:8-16); kerinduan Yesus sebagai manusia ia butuh dukungan doa dari murid-murid-Nya di taman Getsemani.

3. Hidup yang menjadi terang dan berkat di dalam komunitas orang tidak percaya.
            Dalam seluruh aspek kehidupan kita menyatakan dan memuliakan nama Allah. Inilah perwujudan integritas kita sebagai anak Tuhan. Co: kehidupan Yusuf, Daniel.

              Dalam ketiga poin diatas, perhatikan kata "hidup" yang digunakan. Kata ini bukan tanpa maksud saya gunakan. Kata hidup sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam di dalam kehidupan umat percaya.
            Coba perhatikan penggunannya di dalam beberapa surat Paulus. Kata ini digunakan untuk mewakili kondisi keadaan hidup orang percaya. Tidak lagi hidup dalam keberdosaan, melainkan sudah berada dalam kondisi mati akan dosa dan kehidupan duniawi bersama kematian Kristus; lalu dibangkitkan dan hidup berkemenangan atas iblis, maut dan dosa. Jadi pada akhirnya inilah kehidupan orang percaya yang harus hidup, menghidupi hidupnya sebagai umat percaya, pengikut Kristus.
            Hidup di dalam takut akan Tuhan, berkenan bagi Tuhan di dalam semua aspek kehidupan. Tidak hanya memberi hidup bagi Tuhan, namun yang setara dengan itu adalah memberi hidup di dalam komunitas kita masing-masing, dimanapun dan kapanpun. Hidup yang memberikan warna, kesaksian bagi kemuliaan nama Tuhan di dalam komunitas kita.
           Perhatikan kitab Pengkotbah dalam seluruh inti kitab itu, yaitu di pasal 12 ayat 13, "(hidup) takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya". Artinya jikalau hidup dalam berkomunitas pun (berdua lebih baik dari sendiri) harus memiliki dasar dan tujuan yaitu hidup berkomunitas di dalam Tuhan, kepada (untuk) Tuhan dan bagi Tuhan.
           Hidup dalam komunitas ini, janganlah langsung membatasi diri kita untuk melakukan yang besar yang tidak sanggup kita lakukan.....lakukanlah apa yang telah Tuhan berikan yang kita sanggup untuk kita lakukan, karena masing-masing kita diberikan sesuai dengan kemampuan kita yang berbeda-beda. It's better not to do everything, but it's better to do something. Do your best in community for God and God still and will do the rest.

Selamat hidup dalam kebersamaan dan komunitas, baik diantara orang percaya maupun diantara orang belum percaya.
                                                             

Jumat, 06 Januari 2012

Tugas seorang Hamba Tuhan

Source: http://jeffreysiauw.blogspot.com (Jeffrey Siauw: My Ordination 1 Jan 2012 - Part 2)

Di dalam kebaktian pentahbisan pendeta sinode GKY, biasanya salah satu orang yang ditahbiskan diminta untuk menyampaikan khotbah sulung mewakili rekan2 yang lain. Beberapa hari sebelum pentahbisan, saya diberitahu bahwa saya yang diminta untuk menyampaikan khotbah sulung tersebut. Saya diberi waktu maksimal 10 menit, maka saya mencoba untuk menyampaikan apa yang menurut saya paling esensial dan penting untuk disampaikan. Di bawah ini adalah khotbah singkat yang saya sampaikan waktu itu:

Saya punya waktu 10 menit untuk menyampaikan pikiran, janji dan tekad saya. Pada waktu saya diminta untuk menyampaikan khotbah sulung mewakili rekan2 yang lain, saya mencoba untuk flash back ke belakang dan mengingat2.

Salah satu pergumulan yang saya alami pada waktu masih di sekolah teologi adalah, saya bertanya2, apa artinya menjadi hamba Tuhan? Semua orang melayani Tuhan, tapi apa yang membedakan pelayanan semua orang Kristen dengan sekelompok orang Kristen yang disebut hamba Tuhan? Saya tahu istilah ini kurang tepat karena sebetulnya semua orang adalah hamba Tuhan. Tapi kita terlanjur menggunakan istilah ini.

Saya bergumul cukup lama untuk memikirkan dan menemukan apa sebetulnya panggilan kami, tugas kami, yang Tuhan bebankan, sehingga kami dipisahkan dan disebut sebagai hamba Tuhan?

1 bagian Alkitab di dalam Kis 6:1-6 memberikan petunjuk yang sangat penting apa yang dipikirkan oleh para rasul tentang tugas utama mereka, fokus utama mereka sebagai hamba Tuhan.

Pada waktu itu orang Kristen baru berkumpul bersama sebagai gereja. Gereja PB baru dimulai, dan siapa yang melayani? Para rasul melayani segala hal di dalam jemaat. Saya bisa membayangkan bahwa segala urusan, apapun juga di dalam gereja, ditangani oleh mereka. Dan bagian ini memberitahu kita bahwa para rasul akhirnya sadar mereka bukanlah superman. Mereka kewalahan. Sementara jemaat bersungut-sungut karena ketidakberesan dalam pengaturan pembagian makanan bagi janda2 miskin. Atau boleh kita sebut jemaat complain dengan kurang rapihnya administrasi, kurangnya perhatian kepada jemaat, kurangnya pelayanan sosial.

Maka para rasul mengambil keputusan untuk menceritakan pergumulan mereka kepada jemaat. Dan menarik, para rasul berkata bahwa yang paling mereka khawatirkan adalah mereka tidak memuaskan Tuhan karena “kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja”. Karena itu mereka meminta supaya jemaat memilih 7 orang untuk mengerjakan tugas pelayanan meja, pelayanan diakonia, pelayanan administrasi, pelayanan pemerhati itu sementara mereka “dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman”.

Dan ini berlanjut dalam sejarah gereja. Orang yang memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Itulah yang disebut hamba Tuhan!

Pelayanan Firman bisa dikerjakan oleh semua orang Kristen. Tetapi seriusnya pelayanan itu menuntut adanya orang-orang yang mengkhususkan waktu untuk mempelajari Firman Tuhan dan mengajarkannya dengan setia. Dan karena pelayanan mereka menuntut kepekaan mengenal kehendak Tuhan, kebutuhan manusia, dan memohon anugrah Allah, maka doa adalah bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan Firman.

Maka saya percaya menjadi hamba Tuhan berarti selalu mengingatkan diri akan hal ini. Dia bukan seorang event organizer, mengatur berbagai acara yang wah. Dia bukan seorang CEO gereja, yang bisa mengatur strategi bagaimana gereja bertumbuh. Dia bukan seorang administrator ulung, yang kerjanya menangani administrasi. Dia adalah seorang pelayan Firman. Dengan belajar, menyampaikan Firman, berdoa dan memimpin sakramen. Sekalipun dia melakukan berbagai kegiatan, tapi tugas utamanya adalah belajar Firman dan mengajarkan Firman. Berdoa dan mengajak jemaat berdoa. Itu hamba Tuhan.

Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan mengerjakan semua urusan gereja karena berpikir bahwa tugas hamba Tuhan adalah menjalankan gereja (running the church). Selama kegiatan terorganisir, ada program yang inovatif, maka dia hamba Tuhan yang baik. Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan pokoknya banyak membesuk, banyak memperhatikan. Tidak peduli apa yang dia lakukan, apa yang dia bicarakan, sudut pandang apa yang dia sampaikan, pokoknya asal dia datang, membesuk, berdoa, dia hamba Tuhan yang baik. Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan pokoknya khotbah, apapun khotbahnya, berapapun sedikitnya dia persiapan dan merenungkan Firman, pokoknya dia khotbah. Saya kira Alkitab tidak ajarkan itu.

Dan banyak hamba Tuhan lupa panggilannya yang utama, mereka sibuk lakukan banyak hal yang mengalihkan perhatian mereka dari doa dan pelayanan Firman.

Kalau sdr perhatikan jubah pendeta Protestan hampir selalu berwarna hitam. Jubah ini sangat mirip seperti toga yang dipakai pada waktu seseorang diwisuda. Dan memang itulah artinya.

Gereja di abad pertengahan menekankan pelayanan sakramen untuk tiap orang yang ditahbis menjadi pastur. Tapi para reformator mengubah itu, jubah pendeta Protestan adalah jubah akademis. Jubah ini melambangkan orang yang belajar dan diangkat oleh gereja untuk menjadi pengajar Firman.

Maka hari ini, di hadapan Tuhan dan di hadapan saudara, jemaat Tuhan, saya mewakili rekan2 yang lain berjanji untuk seumur hidup menjadi pelayan Firman: Belajar Firman Tuhan sedalam mungkin dan berusaha mengajarkannya sebaik mungkin. Berdoa dengan sungguh2, mengalami Tuhan dalam doa dan mengajak jemaat berdoa. Dan terakhir, untuk melakukan semuanya tidak demi keuntungan pribadi, tidak demi apapun, tapi demi kasih kepada Tuhan dan kepada saudara, jemaat Tuhan. Dan kami berjanji untuk menaruh jemaat Tuhan di dalam hati kami.

Demi nama Tuhan, saya minta, ingatkanlah kami para hamba Tuhan untuk menjadi pelayan Firman. Tegurlah kami ketika kami sibuk mengerjakan segala sesuatu yang lain tapi mengabaikan pelayanan Firman Allah. Mintalah untuk kami belajar dan mengajarkan Firman. Dan doakanlah kami agar urapan Tuhan dan kuasa Tuhan sungguh dicurahkan untuk kami. Dan kiranya berkat Tuhan dicurahkan untuk gerejaNya. Amin.