Tampilkan postingan dengan label Refleksi Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Pribadi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2012

You are my all in all



You are my strength when i am weak
You are the treasure that i seek
You are my all in all

Seeking You as a precious jewel
Lord to give up i’d be a fool
You are my all in all

Reff
Jesus lamb of god, worthy is Your name
Jesus lamb of god, worthy is Your name

Taking my sin, my cross my shame
Rising again i bless Your name
You are my all in all

When i fall down, You pick me up
When i am dry, You fill my cup
You are my all in all

Terima kasih Tuhan, Engkau mau memilih, memanggil saya untuk diselamatkan.
Terima kasih Tuhan, karena Engkau mau memakai saya sebagai alat-Mu untuk melayani-Mu dan menjadi berkat bagi sesama.
Terima kasih Tuhan, Engkau mau selalu sabar sama saya padahal saya sering menyakiti-Mu. Engkau mau memahami, menerima saya apa adanya.
Terima kasih karena Engkau mengganggap saya berharga dan bernilai bagi mu.
Terima kasih karena Engkau mau memaafkan saya ketika terjatuh dalam dosa, tidak hanya itu bahkan Engkau melupakan (tidak memperhitungkan) kesalahan saya.
Terima kasih Engkau mau mendengar segala keluh kesah saya.
Terima kasih karena Engkau mau menopang dan menuntun saya ketika saya berada di lembah kekelaman dengan tongkat dan gadamu (masalah, pergumulan yg berat sekalipun). Memberi kekuatan ketika saya sedang membutuhkannya, entah itu melalui Roh Kudus, Firman-Mu atau bahkan melalui sesama di sekitar kehidupan saya (ortu, rekan atau sahabat).
Terima kasih karena Engkau masih mau mengingatkan, menegur saya dengan tongkat gembala-Mu.
Ajar saya terus agar saya boleh hidup sesuai dengan kehendak-Mu. Itu semua adalah pembentukan-Mu yang pastinya akan berguna buat saya untuk semakin lagi serupa dengan Engkau…semakin berkenan bagi-Mu.

Terima kasih atas segalanya. You are my all in all
Terpujilah nama-Mu. Mulialah nama-Mu. Worthy is Your name.

Rabu, 30 November 2011

Tangisan Kehidupan


Refleksi Advent 1 Matius 2:16-18.
Tangisan bayi atau seorang anak bagi beberapa orang mungkin akan sangat mengganggu, tapi bagaimana jika dilihat dari sisi orangtuanya. Tentu tidak bukan, karena tangisan dari anak miliknya akan menunjukkan bahwa bayinya sedang dalam keadaan hidup. Seorang bayi yang sedang menangis menunjukkan dirinya sedang dalam keadaan membutuhkan perhatian dari orangtuanya, karena ia belum bisa berbicara. Suatu tangisan yang sering digambarkan sebagai suatu ungkapan seorang manusia ketika ia pertama kali datang ke dunia yang penuh dengan dosa dan penderitaan. Suatu tangisan yang menggambarkan adanya suatu kehidupan yang baru.
Demikian pula tangisan yang terjadi di kota Betlehem 2000 tahun yang lalu. Tangisan anak-anak di kota Betlehem yang dicatat oleh penulis kitab Matius, di dalam Matius 2:16 mengusik perhatian saya. Peristiwa ini terjadi, setelah raja Herodes pada waktu itu menyadari bahwa dirinya telah diperdaya oleh orang-orang Majus. Orang-orang Majus ternyata tidak membawa Herodes untuk menemukan Yesus, sang Anak yang dinubuatkan menjadi Raja Israel (lih. Mat. 2:5-8; 12). Hal ini yang membuat Herodes menjadi marah dan mengambil keputusan untuk semua anak di Betlehem dan daerah sekitarnya (anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah).
Jikalau kita sebagai pembaca dan ada pada saat itu, tentu kita akan merasa sangat sedih dan bertanya kenapa Allah membiarkan hal itu terjadi. Seakan-akan Allah tidak mengasihi dan memelihara anak-anak itu dan membiarkan mereka mati. Sementara bagi para orangtua, terjadi begitu kesedihan yang sangat mendalam, karena mereka harus kehilangan anak-anak mereka, buah hati mereka. Sebelum terjebak dengan pemahaman bahwa Allah yang jahat dan tidak peduli, mari bersama-sama kita perhatikan keseluruhan bagian perikop ini.

Kalau kita lihat di ay 13-15, maka kita bisa melihat bahwa dari bagian inilah penulis ingin menunjukkan bahwa Allah tetap ada dan hadir. Allah diwakili dengan sosok malaikat Tuhan yang menyertai Yusuf, Maria dan Sang Anak (Yesus). Allah berdaulat - memegang kendali memelihara keselamatan keluarga ini. Allah tetap hadir dalam sejarah manusia. Di ay. 15 bahkan ditekankan lagi, bahwa Yusuf, Maria dan Yesus tinggal di sana (Mesir) hingga Herodes mati.
Dilanjutkan di ay. 19-23; yang menunjukkan kembalinya keluarga Yusuf setelah Herodes mati. Yusuf sekeluarga kembali ke Israel, dan tinggal di Nazaret. Perhatikan di ayat 20b, “…karena mereka yang hendak membunuh Anak itu sudah mati.”
Kedua bagian di atas menunjukkan bahwa Allah tetap bekerja pada bagian ini. Kita seringkali lebih memilih untuk terjebak di bagian yang lebih fenomena (besar). Dalam hal ini, adalah kematian dari beberapa anak di Betlehem (jumlahnya sekitar 10-30an; hal ini terkait dengan keadaan kota Betlehem yang kecil dalam hal jumlah penduduknya). Namun dari big picture ini, ternyata ada kisah kecil yang seharusnya menjadi fokus utama yaitu pemeliharaan dan penyertaan Allah terhadap Sang Anak (Yesus) dan orang tuanya. Allah secara tak terlihat, menjadikan semua rencana karya keselamatan melalui Yesus Kristus semakin digenapi.

Bagaimana dengan kematian anak-anak seusia Yesus di Betlehem. Saya mencoba memberikan komentar, bahwa peristiwa ini tetap ada di dalam kedaulatan Allah. Artinya Allah di dalam kedaulatan-Nya (kendali), melalui kematian anak-anak itu menunjukkan perbuatan jahat dari Herodes. Perbuatan jahat Herodes yang ingin menggagalkan rencana Allah.
Herodes memang dikenal memiliki ketakutan (paranoid) terhadap orang lain yang mau menyaingi dan merebut kekuasaannya. Hal ini mewakili dosa salah satu manusia, yang ingin memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Bahkan secara lebih luas, manusia pertama yaitu Adam yang berusaha ingin memiliki kekuasaan yang sama dengan kekuasaan Allah.
Selain itu melalui peristwa ini, Allah juga menunjukkan pemeliharaan-Nya terhadap Yesus dan orangtuanya yang terhindar dari ancaman kematian dari Herodes. Peristiwa ini mirip dengan peristiwa kematian bayi-bayi orang Israel pada zaman kelahiran Musa di Mesir. Di dalam peristiwa tersebut, juga menunjukkan kehadiran, kedaulatan dan kendali Allah di dalam terselamatkannya Musa dari antara bayi-bayi yang diperintahkan untuk dibunuh oleh Firaun. Saya tidak akan membahas mengenai keselamatan para bayi tersebut di refleksi ini, walaupun saya percaya bahwa selamat tidaknya mereka ada di dalam kedaulatan dan keadilan Allah.
Gambaran secara luas, dapat kita tarik bahwa di tengah-tengah penderitaan dan penganiayaan yang disebabkan oleh dosa; Tuhan memberikan secercah cahaya pengharapan melalui tidak ditemukan dan tidak terbunuhnya sang Anak, Yesus. Karena melalui Yesuslah, nanti Allah akan menggenapi janji pembebasan dan keselamatan dari dosa terhadap umat Israel dan seluruh umat umat manusia. Karya penyelamatan Allah terhadap Yesus dan orang tuanya sengaja disajikan dan dibandingkan dengan peristiwa pembunuhan anak-anak dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa karya Allah lebih besar dari usaha manusia.

Pelajaran yang bisa diambil dari refleksi ini adalah kita bisa menemukan janji penyertaan Allah yang digenapi dalam peristiwa kematian beberapa anak di Betlehem. Allah yang menjanjikan adanya seorang Juruselamat, melalui Yesus Kristus; tidak dapat digagalkan oleh rencana jahat manusia (Herodes). Janji Allah untuk hal itu mulai terancangkan, di awal kehidupan Yesus Kristus.
Tangisan anak-anak di satu sisi dianggap sebagai sebuah kejahatan, namun di sisi secara global (big picture) menunjukkan ada karya pemeliharaan Tuhan -> rancangan keselamatan umat manusia di dalam Yesus Kristus.
Hal ini pula yang harus kita pegang sebagai anak-anak Tuhan bahwa Allah selalu menyertai setiap umat-Nya hingga kedatangan-Nya yang kedua kali nanti. Tidak hanya pemeliharaan Tuhan, namun Allah berdaulat dalam seluruh kehidupan umat manusia di bumi ini, walaupun ada kejahatan sekalipun. Kejahatan yang Tuhan ijinkan terjadi pun adalah untuk menunjukkan bahwa inilah kehidupan dalam dunia yang berdosa.
Saya teringat suatu kesaksian dari Bill Gaither yang menciptakan lagu Because He Lives. Ia menciptakan lagu itu ketika ia merasa khawatir akan kelahiran anaknya. Namun ketika anaknya lahir dan menangis, ia merasa ketakutan itu pun menjadi hilang. Tangisan bayi itu menyadarkan dia bahwa bayinya hidup. Tangisan itu juga menyadarkan dia bahwa keberadaan kita sebagai manusia adalah kecil dan tak berdaya, di tangan Tuhan. Melalui tangisan itu ia sadar bahwa hidup manusia ada di tangan Tuhan. Walaupun ada kesulitan dan penderitaan, namun tetap ada pengharapan di dalam Yesus Kristus. Pengharapan yang ditunjukkan melalui kemenangan-Nya atas dosa dan maut dengan kebangkitan-Nya pada hari ketiga.
Tuhan yang telah mati, namun Ia bangkit untuk menyatakan jaminan akan adanya hari esok. Jaminan akan adanya keselamatan hidup kekal bagi setiap manusia yang mau datang, bertobat dan percaya kepada nama Yesus.
Mari bersama-sama kita menggunakan waktu minggu Advent ini dengan baik-baik untuk merenungkan makna Natal bagi kita, umat percaya yang sedang menantikan Dia juga akan datang kedua kalinya ke dunia.


Rabu, 13 Juli 2011

Hamba Tuhan juga manusia biasa, bukan SUPERMAN

Sedih mendengarnya...... Just think n realize this fact n the reality (ga abis pikir):

Even hamba Tuhan adalah pelayan Tuhan yang dengan sukarela mengerjakan pelayanan panggilannya....namun ia juga manusia biasa yang punya banyak kelemahan (walaupun bukan sebuah kompromi). Ia hamba dan pelayan TUHAN, bukan pelayan dan hamba MANUSIA....bukan pula pelayan dan hamba GEREJA.

Perlakukanlah ia sama seperti Tuhan Yesus juga telah memperlakukanmu sebagai sesamanya manusia. Hal ini terlihat ketika Tuhan Yesus mengajarkan kepada para pendengarnya dengan cerita perumpamaan orang Samaria yang baik.

Tidak hanya itu, bahkan rasul Paulus juga mengajarkan dan mengingatkan dalam surat Efesus dan Kolose, mengenai aplikasi cara hidup seseorang sebagai manusia baru. Manusia yang telah menerima ANUGERAH KESELAMATAN dari Kristus.

Dalam surat Efesus 2:10, kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan PEKERJAAN BAIK yang dipersiapkan Allah,....supaya kita HIDUP di dalamnya (LIVE the LIFE in Christ absolutely).Hiduplah sebagai orang yang mengenal Allah, bukan lagi hidup seperti orang bebal. Yaitu dengan menerapkan KASIH KRISTUS sebagai dasar hidup, entah di dalam hubungan suami isteri, orang tua dan anak termasuk antara TUAN dan HAMBA (Ef. 5-6).

(ay. 5-6) Hamba harus mentaati dengan takut hormat dan gentar, tulus hati sama seperti taat kepada Kristus. Melayan dengan segenap hati untuk TUHAN, bukan untuk MANUSIA. Demikian pula TUAN-TUAN, PERBUATLAH JUGA terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman (ay. 9). Ingatlah, contohlah, teladan bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di Sorga JUGA TIDAK MEMANDANG MUKA (membeda-bedakan).

Memang ketika saya menulis ini, jujur saya sedang emosi karena mendengar suatu kasus cerita seorang teman yang sedang praktek pelayanan setahun di sebuah gereja. Cerita lama yang tidak asing lagi, ketika ia merasa dirinya dianggap seperti seorang bawahan yang sedang melayani manusia, bukan gereja. Melayani karena TAKUT sama manusia, bukan TAKUT akan TUHAN. Melayani hingga sampai tidak dapat istirahat, saking SIBUKNYA....entah itu ada atau tidak hamba Tuhan yang lain. Biasannya hal ini dilakukan oleh seorang majelis atau bahkan lagi, dilakukan oleh seorang HAMBA TUHAN yang senior atau juga seorang ISTRI HAMBA TUHAN.

Namun sekali lagi saya juga tidak ingin meyoroti dari satu sisi saja. Makanya, saya menyoroti dari dua sisi, baik itu sebagai HAMBA maupun TUAN dan apapun status pekerjaan kita....kita harus memberikan yang terbaik, dan untuk memuliakan nama-Nya. Lakukan dengan dasar Kasih Kristus.

Saya juga pasti akan terus memberikan kekuatan dan semangat bagi dirinya. Tidak lupa mengajarkan untuk mencoba melihat, menantikan KARYA TUHAN dan PEMBENTUKANNYA dengan KESABARAN dan PENGHARAPAN. Walaupun seringkali kita tidak sabaran. Selain itu juga BELAJAR dari KESALAHAN-KESALAHAN yang terjadi dan telah dilakukan, sehingga kita TIDAK MENGULANGINYA lagi. Pasti ada sebabnya, BACKGROUNDnya seseorang melakukan kesalahan dalam menjalankan fungsinya, sebagai HAMBA maupun sebagai TUAN.

Saya juga belajar untuk bukan emosi, membalas, tapi dengan BERDOA.
Bapa, Ampunilah mereka yang berbuat tidak sepantasnya kepada para hamba Tuhan..terkadang mereka tidak tahu, tidak memahami..dan tidak bersikap dengan KASIH-MU. Tuhan juga tolong TEGUR mereka, agar mereka menyadari kesalahannya karena TUHAN sendiri telah mengajarkan bagaimana MEMPERLAKUKAN SESAMANYA MANUSIA. Apalagi ini adalah SESAMANYA REKAN SEPELAYANAN.

Ajarlah setiap hamba Tuhan yang diperlakukan seperti itu, agar mampu melihat KARYA PEMBENTUKAN TUHAN dengan MATA HATI yang berasal dari TUHAN, dengan KASIH yang Murah Hati, dan PANJANG SABAR.

BANYAK TAHU sesuatu belum tentu MAMPU MELAKUKAN dengan BENAR...namun MAU TERUS BELAJAR dan DIAJAR dengan memiliki KERENDAHAN HATI, niscaya juga memiliki KEMAMPUAN untuk melakukankan dengan BENAR.

Pasti, Tuhan Yesus tetap menyertai setiap hamba-hambaNya....
Tetap berdoa, tetap bersandar, tetap memberikan yang terbaik, tetap tersenyum.....
just as what Jesus has done.

Tuhan Memberkati, Soli Deo Gloria.