I am the vine; you are the branches. Whoever abides in me and I in him, he it is that bears much fruit, for apart from me you can do nothing. (ESV John 15:5)
Kamis, 22 Agustus 2013
Kamis, 29 November 2012
How to Glorify God at Work
Shalom,
sy ingin membagi berkat (silakan di-share kembali jika itu menjadi berkat dan jangan lupa rujukan footnotenya dari artikel John Piper) melalui artikel dari Pdt. John Piper yang saya download dari homepagenya:
by John Piper | September 6, 2011
Just home from two weeks in Australia,
I am brimming with thankfulness to God for his people there, and for the
pleasures of working with them in Brisbane and Sydney and in the mountains of
Katoomba.
One of the conferences was called Engage.
It was focused on “young workers,” which, in their lingo, means young professionals
in the workplace. I was asked in an interview if I thought this focus was a
good idea. I said yes, because of 1 Corinthians 10:31, “Whether you eat or drink,
or whatever you do, do all to the glory of God.”
So they asked: How can young workers
glorify God at work? Here’s the gist of my answer.
Dependence. Go to work utterly dependent on God
(Proverbs 3:5-6; John 15:5). Without him you can’t breathe, move,
think, feel, or talk. Not to mention be spiritually influential. Get up in the
morning and let God know your desperation for him. Pray for help.
Integrity. Be absolutely and meticulously
honest and trustworthy on the job. Be on time. Give a full day’s work. “Thou
shalt not steal.” More people rob their employers by being slackers than by
filching the petty cash.
Skill. Get good at what you do. God has
given you not only the grace of integrity but the gift of skills. Treasure that
gift and be a good steward of those skills. This growth in skill is built on
dependence and integrity.
Corporate shaping. As you have influence and opportunity,
shape the ethos of the workplace so that the structures and policies and
expectations and aims move toward accordance with Christ. For example, someone
is shaping the ethos of Chick-fil-A restaurants with this
video.
Impact. Aim to help your company have an
impact that is life-enhancing without being soul-destroying. Some industries
have an impact that is destructive (e.g., porn, gambling, abortion, marketing
scams, etc). But many can be helped to turn toward impact that is life-giving
without being soul-ruining. As you have opportunity, work toward that.
Communication. Work places are webs of
relationships. Relationships are possible through communication. Weave your
Christian worldview into the normal communications of life. Don’t hide your
light under a basket. Put it on the stand. Winsomely. Naturally. Joyfully. Let
those who love their salvation say continually, Great is the Lord! (Psalm 40:16)
Love. Serve others. Be the one who
volunteers first to go get the pizza. To drive the van. To organize the picnic.
Take an interest in others at work. Be known as the one who cares not just
about the light-hearted weekend tales, but the burdens of heavy and painful
Monday mornings. Love your workmates, and point them to the great Burden
Bearer.
Money. Work is where you make (and spend)
money. It is all God’s, not yours. You are a trustee. Turn your earning into
the overflow of generosity in how you steward God’s money. Don’t work to earn
to have. Work to earn to have to give and to invest in Christ-exalting
ventures. Make your money speak of Christ as your supreme Treasure.
Thanks. Always give thanks to God for life
and health and work and Jesus. Be a thankful person at work. Don’t be among the
complainers. Let your thankfulness to God overflow in a humble spirit of
gratitude to others. Be known as the hope-filled, humble, thankful one at work.
There are more things to say about glorifying
God in the workplace. But this is a start. Add to the list as God gives you
light. The point is: Whatever you do, whether you eat or drink or work, do all
to make God look as great as he really is.
Kamis, 19 April 2012
You are my all in all
You are my strength when i am weak
You are the treasure that i seek
You are my all in all
You are the treasure that i seek
You are my all in all
Seeking
You as a precious jewel
Lord to give up i’d be a fool
You are my all in all
Lord to give up i’d be a fool
You are my all in all
Reff
Jesus
lamb of god, worthy is Your name
Jesus lamb of god, worthy is Your name
Jesus lamb of god, worthy is Your name
Taking
my sin, my cross my shame
Rising again i bless Your name
You are my all in all
Rising again i bless Your name
You are my all in all
When i fall down, You pick me up
When i am dry, You fill my cup
You are my all in all
When i am dry, You fill my cup
You are my all in all
Terima
kasih Tuhan, Engkau mau memilih, memanggil saya untuk diselamatkan.
Terima
kasih Tuhan, karena Engkau mau memakai saya sebagai alat-Mu untuk melayani-Mu
dan menjadi berkat bagi sesama.
Terima
kasih Tuhan, Engkau mau selalu sabar sama saya padahal saya sering menyakiti-Mu.
Engkau mau memahami, menerima saya apa adanya.
Terima
kasih karena Engkau mengganggap saya berharga dan bernilai bagi mu.
Terima
kasih karena Engkau mau memaafkan saya ketika terjatuh dalam dosa, tidak hanya
itu bahkan Engkau melupakan (tidak memperhitungkan) kesalahan saya.
Terima
kasih Engkau mau mendengar segala keluh kesah saya.
Terima
kasih karena Engkau mau menopang dan menuntun saya ketika saya berada di lembah
kekelaman dengan tongkat dan gadamu (masalah, pergumulan yg berat sekalipun).
Memberi kekuatan ketika saya sedang membutuhkannya, entah itu melalui Roh
Kudus, Firman-Mu atau bahkan melalui sesama di sekitar kehidupan saya (ortu, rekan
atau sahabat).
Terima
kasih karena Engkau masih mau mengingatkan, menegur saya dengan tongkat
gembala-Mu.
Ajar
saya terus agar saya boleh hidup sesuai dengan kehendak-Mu. Itu semua adalah
pembentukan-Mu yang pastinya akan berguna buat saya untuk semakin lagi serupa
dengan Engkau…semakin berkenan bagi-Mu.
Terima
kasih atas segalanya. You are my all in all
Terpujilah
nama-Mu. Mulialah nama-Mu. Worthy is Your name.
Selasa, 03 April 2012
Jangan asal ngomong “Kepo”
Tulisan ini ditujukan untuk semua orang percaya dari seluruh golongan usia. Kata kepo pada saat ini, tidak
hanya menjadi trend di kalangan para anak muda; namun juga sering dilontarkan
oleh beberapa kalangan dewasa.
Namun yang menjadi perhatian saya, sebagai seorang Hamba Tuhan adalah ketika
penggunaan kata “Kepo” ini yang terkadang terkesan sembarangan dan tidak sesuai
dengan fungsi awalnya. Semua orang yang bertanya seakan-akan terkesan ingin
tahu dan mengorek-mengorek sesuatu, tanpa melihat motivasinya sudah langsung dijudge sebagai orang kepo. Padahal
mungkin dari pihak si penanya, ia tidak ada maksud ingin tahu semua keadaan
orang itu (bahkan menjadi orang yang sok tahu).
Hal-hal semacam inilah yang ingin coba saya berikan berupa pertimbangan mengenai
pemahaman kata kepo untuk lebih
diperhatikan lagi dalam penggunaannya.
Di bawah ini, saya sajikan beberapa pendefinisian kata kepo, yang saya ambil dari internet:
Kata “Kepo” menurut kamus kitab gaul (http://kitabgaul.com/word/kepo)
berasal dari kata Hokkian, yang berasal dari 2 kata yaitu ke dan po (apo). Ke artinya bertanya dan Po (Apo) artinya nenek-nenek. Artinya secara
jelas adalah merujuk kepada kebiasaan orangtua (nenek dan kakek juga) yang
sering bertanya ingin tahu keadaan anak atau cucunya.
Kata ini juga ditujukan kepada orang yang ingin tahu sesuatu ketika ia
mendengar sesuatu, dimana ketika ia menjawab sebenarnya ia sedang tidak diajak
berbicara pada saat itu. Ga minta dibantu, eh malah bantu; ga ditanya eh malah
pasang gaya pingin kasih tau.
Bahkan ada yang mengistilahkannya dengan bahasa Inggris, yaitu KEPO = Knowing Every Particular Object (selalu
pingin tahu dan mengetahui segala sesuatu).
Friends, dari definisi ini maka dapat kita tarik beberapa hal yang bisa
menjadi suatu pertimbangan mengapa terjadi penyalahgunaan kata ini di dalam
percakapan kita sehari-hari. Saya akan berikan salah satu contoh ilustrasinya.
Ada seseorang hamba Tuhan yang merasa tersinggung ketika seorang remaja (bisa
juga dialami oleh seorang jemaat) mengatakan bahwa ia adalah seorang yang kepo,
karena hamba Tuhan ini sering bertanya-tanya mengenai keadaan anak remaja ini.
Dari sisi anak remaja ini merasa bahwa hamba Tuhan ini sangat mengganggu
privasinya, sehingga seakan-akan mengorek keadaan pribadinya. Sedangkan dari
sisi hamba Tuhan ini, ia merasa bahwa ini adalah sebagian dari tugas penggembalaannya
untuk mengetahui keadaan anak remajanya.
Nah, dari ilustrasi ini dapat kita tangkap permasalahannya, bukan? Mau
tidak mau, kita sekarang hidup di zaman postmodern yg menekankan suatu
pandangan relativisme. Suatu pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada
kebenaran yang absolut, yang ada adalah kebenaran menurut penilaian pribadi (relatif-selera)
masing-masing.
Inilah yang sering terjadi di beberapa kalangan yang merasa bahwa
penilaiannya adalah sebuah kebenaran. Memang tidak bisa langsung menjudge sesuatu karena masing-masing case harus dilihat dari beberapa aspek.
Pemikiran seorang remaja atau jemaat yang tidak mau diperhatikan atau
ditanya-tanya oleh seseorang jemaat lain atau oleh hamba Tuhannya akan memakai
alasan penggunaan kata kepo ini untuk
self-defense. Ia tidak mau tahu bahwa
orang yang sedang bertanya ini, mungkin ada maksud yang baik. Bukankah
seharusnya kita juga harus bisa memahami orang lain, dengan cara belajar
melihat sesuatunya diimbangi dengan melihat dari sisi orang lain (melihat dari
kacamata orang lain). Mungkin saja dari pihak si penanya, memang ingin tahu dan
mengenal orang yang ditanya. Atau mungkin saja dari pihak yang ditanya, memang
memiliki karakter yang agak tertutup sehingga sangat sulit untuk ditanya.
Intinya adalah apakah seseorang yang dianggap kepo (ingin tahu) memiliki motivasi yang benar, terlebih jika hal
ini terjadi di dalam sebuah komunitas orang percaya. Suatu pertanyaan jika
didasari atas motivasi dan tujuan yang benar seharusnya dapat disikapi dengan
jawaban yang benar juga.
Bagi si penanya, tentu saja suatu pertanyaan yang diberikan, dengan
motivasi yang tulus dan bertujuan untuk mengenal dan peduli, tentunya juga akan
diwujudkan dengan pertanyaan yang bukan seperti mengorek-ngorek rahasia pribadi
orang lain.
Jadi masing-masing pihak juga harus mendasari apa yang dilakukannya
dengan tujuan yang benar. Saya bisa berikan usulan, yaitu bertujuan untuk
saling membangun, membentuk dan memperhatikan sebagai satu kesatuan TUBUH
KRISTUS (ingat 1 Kor 12:25, 27).
1 Korintus 12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh,
tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
1 Korintus 12:27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu
masing-masing adalah anggotanya.
Jadi alangkah baiknya kalau kita sembarangan memberikan cap kepo kepada seseorang yang sedang bertanya-tanya kepada kita. Di satu
sisi, ketika kita bertanya pun kita harus bertanya dengan motivasi dan tujuan
yang benar dan tulus juga. Contohlah apa yang Tuhan Yesus lakukan ketika ia dengan
sengaja dan mau bercakap-cakap dengan perempuan Samaria di Yohanes 4:4-30 (perhatikan
latar belakang permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria).
Mungkin kalau saya melihat dan merasakan dari sisi perempuan Samaria,
saya juga akan mencap bahwa Yesus adalah orang yang kepo. Untuk apa Yesus
sebagai orang Yahudi mengajak berbicara dirinya sebagai seorang perempuan
Samaria dan bahkan melihat statusnya sebagai perempuan berdosa (ditafsirkan
pekerjaannya adalah seorang perempuan berdosa, kasarnya pekerja seksual). Tidak
hanya itu, bahkan Yesus menyuruh-nyuruh dirinya untuk memanggil suaminya, yang
notabene kita tahu status perempuan ini adalah perempuan dengan status memiliki
suami lebih dari satu.
Tapi kita tahu sama-sama bahwa akhirnya melalui perempuan Samaria ini, ternyata
Yesus melakukannya dengan motivasi dan tujuan yang memuliakan Allah Bapa-Nya di
Sorga. Melalui perempuan ini, tidak hanya memenangkan jiwanya (diampuni dan
diselamatkan) tetapi juga bahkan mengajak orang lain untuk datang, bertemu dan
mengenal Kristus. Hal inilah yang harus kita teladani dari dua pribadi ini.
Dari pribadi Kristus yang mau menjangkau dan peduli dengan orang lain sambil
menceritakan tentang Allah; dan pribadi perempuan Samaria yang tidak bersifat
tertutup dengan pemikiran sempitnya tentang orang Yahudi maupun tentang orang
lain yang mau bercakap-cakap dengan dirinya, yang seakan-akan menyinggung
masalah pribadinya yang paling dalamnya.
Jika perempuan ini memandang bahwa Yesus adalah kepo, maka ia sudah terlebih dahulu menutup pintu hatinya untuk
mengenal Mesias, penyelamat yang dinubuatkan itu. Jadi janganlah sembarangan
kita memiliki pemikiran yang sempit tentang orang lain yang bertanya dan ingin
mengenal kita lebih dalam sebagai orang yang kepo. Padahal orang itu bertanya dengan motivasi hati dan tujuan
yang tulus. Yakobus pun juga mengingatkan untuk berhati-hati menggunakan lidah
kita dalam berkata-kata (bandingkan perumpamaan: mulutmu adalah harimaumu).
Selamat merenungkan dan jika ada yang kurang berkenan atau tidak setuju,
boleh kita saling memperlengkapi satu sama lain dengan diskusi yang membangun. Blessings.
Langganan:
Postingan (Atom)

