Sabtu, 17 Desember 2011

Hidup Orang Percaya yang Berkomunitas


              Hari ini kita mau kembali merefreshing penting ga sih komunitas buat kita?Dalam hal ini, komunitas persekutuan pemuda kita di Methodis Imanuel (P3MI). Btw kalau penting, mengapa? Apa gunanya buat kita? (seharusnya apa yg telah kita berikan buat P3MI).
            Village Hall = Town Hall, tempat untuk berkumpul di kota-kota besar. Bisa untuk apa saja. P3MI apakah “hanya” seperti Village Hall? Apakah berkumpul (bersekutu) ada makna, tujuan dan hasilnya? Makanya ada tercatat dlm PIR: aq percaya: Gereja yg kudus dan Am, (sebagai) persekutuan orang kudus

            Makna-Dasar kita bersekutu:
1. It’s all from GOD
Secara alkitabiah said that we all are from God, so our characteristic is from God. Alasan pertama mengapa kita bersekutu adalah karena Allah pun juga adalah pribadi yang berelasi. See Kej 1:26; 2:18-22 (Allah pribadi yang sosial).
Kita adalah pribadi yang diciptakan memiliki kebutuhan untuk berelasi, baik itu berelasi dengan Tuhan dan sesama kita.
Kej 1:27, menurut gambar dan rupa Allah (Kita)-> satu2nya makhluk yang diciptakan serupa dengan gambaran Allah. Yaitu manusia diciptakan dalam kemiripan dengan Allah. Dalam hal apa Manusia memiliki ciri2 karakteristik yang menunjukkan kemiripan dengan Allah. Diantaranya adalah:
a. Allah: pribadi yg berpikir-manusia: makhluk berpikir
b. Allah: makhluk spiritual-manusia: makhluk spritual-makhluk roh.
c. Allah: makhluk moral yang tinggi-manusia: memiliki nilai moralitas, sehingga tahu mana yang benar dan salah.
d. Allah: pribadi yang berelasi di dalam pribadi Allah Tritunggal, manusia diciptakan untuk berelasi
            We can’t have a intimacy relation with animal, just with God and human (kej 2:18), dialog not monolog.

            Jadi sebenarnya tidak ada seorang pun yang dapat hidup sendirian. Tuhan menciptakan kita sedemikian rupa sehingga kita memerlukan sesama kita.
Bandingkan dengan pemahaman mengenai Kerj. Sorga: konsep relasi antara manusia dengan Allah yang terkadang digambarkan dengan relasi manusia dengan sesamanya (Co: ayah dan anak sulung dan bungsu; mempelai pria dan wanita). Juga makna 10 Hk. Taurat; salib -> Mengasihi Allah dan Mengasihi sesama (wujud).
                       
2. We have relation through & in Christ = the body of Christ (Christ is the head). We were enemy, but now we are living as family=CHURCH (P3MI, PRMI, dll).
We are in the family of God-eternal (Kej 2:7; Yoh. 1:12-13; 3:3; 15:5-Akulah Pokok Anggur dan kamulah ranting-rantingnya; Rm 12:5-Kristus menjadikan kita satu tubuh…berhubungan satu dengan yang lain) vs family of humanity-temporary.
Kita mendapatkan fasilitas: nama Keluarga: anak2 Allah (1 Yoh 3:1); keserupaan keluarga serupa dengan Kristus (Rm. 8:29); hak istimewa keluarga: anak, ahli waris (Gal. 4:6-7); kedekatan hubungan keluarga (Rm 5:2) dan warisan keluarga: keselamatan hidup kekal (1 Pet 1:3-5).



Paulus: menjadi anggota gereja berarti menjadi organ penting dari suatu tubuh yang hidup, suatu bagian yg sangat diperlukan dan saling terkait dari tubuh Kristus.

Bersekutu: berhubungan-berelasi sebagai sesama anggota keluarga Tuhan (1 Kor 12:12-26). Bdk dengan konsep PL UMAT Allah = ANAK-ANAK Allah = GEREJA = Persekutuan orang percaya
Persekutuan (Yunani, koinonia: berbagi dan menekankan kesatuan dari gereja). Gereja mula2 berkumpul dengan memecahkan roti dan berdoa, table fellowship
Community (kumpulan masy)-commune (kelomp yg hidup bersama).

3. Tujuan Bersekutu untuk menyatakan kemuliaan Tuhan.
(Kutipan dari buku Kambium) Bersekutu merupakan sarana kasih karunia Tuhan utk (dari sisi manfaat P3MI buat saya):
a.Persaudaraan yang mendorong dan meneguhkan (Ibr 10:24-25). Pembentukan kerohanian dan karakter.
Tidak dipungkiri, tidak semuanya kita bisa nyambung satu sama lain..namun kita belajar untuk berelasi dengan sesama.
Tidak dipungkiri ada gesekan (Semakin dekat pasti akan muncul gesekan = keluarga). Hal ini disebabkan ada perbedaan, namun bukan fokus kepada perbedaannya tapi bagaimana melihat perbedaan tersebut ada suatu kesatuan yang mengikat di dalam status persaudaraan di dalam Kristus (Kasih, Iman, Pengharapan yang sama).
        b.Pengajaran yang mengubahkan dan menumbuhkan (Ef 4:11-16): persekutuan orang kudus di dalam dunia untuk menghidupi hidup yg baru sebagai anak-anak Allah di dalam keluarga Allah ini di dalam ketekunan (Live the Life as Christian) Memperlengkapi orang2 kudus bagi pekerj pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus.
c.Penyembahan yang mengarahkan hati pada kemuliaan Tuhan (1 Taw 16:29). Bersama-sama menyembah dalam ibadah raya.
d.Pelayanan yang memenuhi kebutuhan dan menjadi kesaksian bagi sesama (Yoh 13:34-35)

Co dalam Bible: Kel 17:8-16 (Musa dibantu teman2nya bersama Harun, Hur dan Joshua; Pengkh 4:9-12 (lebih baik berdua daripada sendiri); Mark 6:6b (Yesus dan 12 murid; mengutus murid2Nya berdua-dua); Roma 12:4-5; Paulus dan rekan2 (Silas, Barnabas, Timotius-lih salam2 di akhir surat Paulus): minta didoakan dll.

Dalam buku Kambium mencatat beberapa hal praktis: How to bersekutu? Dari sisi saya buat P3MI
1. Komitmen LIHAT, bersedia tuk coba melihat
2. Komtemen DATANG, rutin
3. Komitmen TUMBUH, mencari dan menggunakan kesempatan yang ada utk bertumbuh mell: SaTe, PA, pembinaan, PDoa, komsel / KK, pelayanan dll
4. Komitmen LAYANI, mencari dan menggunakan kesempatan yg ada tuk menolong orang lain bertumbuh mell: kesaksian, sharing, encouragements dll

Apa yg dperlukan utk membangun Komunitas yg sesungguhnya:
FOKUS to JESUS and berdampak keluar pada komunitas. Perhatikan: Rm 12:16 sehati sepikir; 1 Kor 1:10 Seia sekata; Fil 1:27 berpadanan dengan Injil Kristus; Fil 2:1-5

Paulus: persekutuan menekankan fakta bahwa orang percaya saling memiliki (kata “satu sama lain”). Krn persekutuan dalam Kristus, Paulus memerintahkan orang percaya utk: menerima satu sama lain (Rm 15:7), saling mengasihi (Ef 4:2, 15, 16; 5:2) menahan diri utk saling menghakimi (Rm 14:3, 13), saling membangun (Rm 14:19), dipersatukan (Rm 15:5), dan saling mengingatkan (Rm 15:14)

            Aplikasinya: 1. saling jujur dan terbuka; 2. Saling percaya dan memegang rahasia (ga ember); 3. Saling rendah hati dan mengampuni; 4. Kuantitas dan kualitas waktu bersama (fellowship). Bedakan ya dengan wakuncar (Waktu untuk Pacar)
Bukan hanya sekedar say hai (basa-basi) tp bermakna dalam perkataan.
            Hidup bersama memerlukan kemampuan toleransi yang tinggi antara satu dengan yang lain, perlu saling menghargai, saling menopang dan saling menghormati. Bahkan melalui hidup bersama di tengah-tengah komunitas ini pertumbuhan rohani kita diuji dengan ketat sekali untuk memperlihatkan buah Roh Kudus (Gal. 5:22-23). Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya (Ams. 27:17).

Konsep Sense of Belonging
Saya mengutip tulisan seorang mantan pembina saya di Pemuda dari blognya (jeffreysiauw.blogspot.com) Ia menuliskan apa yang telah ia baca di dalam salah satu buku (Komunitas Alternatif: Hidup Bersama Menebarkan Kasih, Penerbit Kanisius), ketika sampai pada kalimat sense of belonging, penerjemah buku tersebut memberikan catatan kaki: “Biasanya sense of belonging diterjemahkan secara keliru dengan rasa memiliki.
 Sebenarnya, sense of belonging adalah rasa dimiliki, artinya seseorang merasa dirinya diterima di dalam komunitas dan diakui sebagai bagian dari suatu komunitas hidup”. Secara terjemahan, memang itulah terjemahan yang tepat! Terjemahan yang berbeda itu akan merubah cara berpikir kita.
Seringkali ketika membicarakan tentang komunitas atau persekutuan, kita menyebut istilah rasa memiliki. Maksudnya adalah perasaan mengasihi persekutuan tersebut, perasaan bahwa dia punya tanggung jawab atas persekutuan tersebut, perasaan bahwa dia tidak rela persekutuan itu hancur. Karena apa? Karena dia punya rasa memiliki.
Maka kita ingin supaya orang-orang dalam persekutuan punya rasa memiliki persekutuan tersebut supaya mereka mau berjuang untuk persekutuan itu. Bagaimana caranya? Entahlah. Mungkin kita melibatkan mereka dalam berbagai aktifitas (supaya mereka merasakan berjuang untuk persekutuan itu), mungkin melibatkan mereka dalam acara kebersamaan (supaya mereka akrab dan senang dengan persekutuan itu) atau mungkin mengajak mereka berdoa untuk persekutuan itu (supaya persekutuan itu lekat dalam hati mereka). Pada intinya kita berjuang supaya mereka menjadikan persekutuan itu sebagai milik mereka.
Tetapi ketika kita mengubah terjemahan sense of belonging menjadi rasa dimiliki, seluruh arti menjadi berbeda.
Kita bukan berjuang supaya setiap orang dalam persekutuan merasa memiliki persekutuan, tetapi supaya mereka merasa dimiliki oleh persekutuan itu. Mereka merasa dianggap bagian dari persekutuan itu, merasa dikasihi, merasa dijadikan anggota keluarga. Bandingkan: memiliki Tuhan atau milik Tuhan; memiliki keluarga atau milik keluarga.
Mungkin kegiatan yang kita lakukan tetap sama, tetapi seluruh arah akan menjadi berbeda.

Kesimpulannya:
1. Kita semua dimiliki oleh Tuhan, dimiliki oleh P3MI…kita adalah keluarga Allah, keluarga P3MI
2. Jika kita belum banyak menerima berkat dari P3MI > ikut dan datang lebih rutin,
3. tp jika kita sudah menerima banyak, mari kita memberikan kembali buat P3MI
4. Bagikan juga kepada yg belum ikut, berkat sukacita yg kita dapatkan.



Rabu, 30 November 2011

Tangisan Kehidupan


Refleksi Advent 1 Matius 2:16-18.
Tangisan bayi atau seorang anak bagi beberapa orang mungkin akan sangat mengganggu, tapi bagaimana jika dilihat dari sisi orangtuanya. Tentu tidak bukan, karena tangisan dari anak miliknya akan menunjukkan bahwa bayinya sedang dalam keadaan hidup. Seorang bayi yang sedang menangis menunjukkan dirinya sedang dalam keadaan membutuhkan perhatian dari orangtuanya, karena ia belum bisa berbicara. Suatu tangisan yang sering digambarkan sebagai suatu ungkapan seorang manusia ketika ia pertama kali datang ke dunia yang penuh dengan dosa dan penderitaan. Suatu tangisan yang menggambarkan adanya suatu kehidupan yang baru.
Demikian pula tangisan yang terjadi di kota Betlehem 2000 tahun yang lalu. Tangisan anak-anak di kota Betlehem yang dicatat oleh penulis kitab Matius, di dalam Matius 2:16 mengusik perhatian saya. Peristiwa ini terjadi, setelah raja Herodes pada waktu itu menyadari bahwa dirinya telah diperdaya oleh orang-orang Majus. Orang-orang Majus ternyata tidak membawa Herodes untuk menemukan Yesus, sang Anak yang dinubuatkan menjadi Raja Israel (lih. Mat. 2:5-8; 12). Hal ini yang membuat Herodes menjadi marah dan mengambil keputusan untuk semua anak di Betlehem dan daerah sekitarnya (anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah).
Jikalau kita sebagai pembaca dan ada pada saat itu, tentu kita akan merasa sangat sedih dan bertanya kenapa Allah membiarkan hal itu terjadi. Seakan-akan Allah tidak mengasihi dan memelihara anak-anak itu dan membiarkan mereka mati. Sementara bagi para orangtua, terjadi begitu kesedihan yang sangat mendalam, karena mereka harus kehilangan anak-anak mereka, buah hati mereka. Sebelum terjebak dengan pemahaman bahwa Allah yang jahat dan tidak peduli, mari bersama-sama kita perhatikan keseluruhan bagian perikop ini.

Kalau kita lihat di ay 13-15, maka kita bisa melihat bahwa dari bagian inilah penulis ingin menunjukkan bahwa Allah tetap ada dan hadir. Allah diwakili dengan sosok malaikat Tuhan yang menyertai Yusuf, Maria dan Sang Anak (Yesus). Allah berdaulat - memegang kendali memelihara keselamatan keluarga ini. Allah tetap hadir dalam sejarah manusia. Di ay. 15 bahkan ditekankan lagi, bahwa Yusuf, Maria dan Yesus tinggal di sana (Mesir) hingga Herodes mati.
Dilanjutkan di ay. 19-23; yang menunjukkan kembalinya keluarga Yusuf setelah Herodes mati. Yusuf sekeluarga kembali ke Israel, dan tinggal di Nazaret. Perhatikan di ayat 20b, “…karena mereka yang hendak membunuh Anak itu sudah mati.”
Kedua bagian di atas menunjukkan bahwa Allah tetap bekerja pada bagian ini. Kita seringkali lebih memilih untuk terjebak di bagian yang lebih fenomena (besar). Dalam hal ini, adalah kematian dari beberapa anak di Betlehem (jumlahnya sekitar 10-30an; hal ini terkait dengan keadaan kota Betlehem yang kecil dalam hal jumlah penduduknya). Namun dari big picture ini, ternyata ada kisah kecil yang seharusnya menjadi fokus utama yaitu pemeliharaan dan penyertaan Allah terhadap Sang Anak (Yesus) dan orang tuanya. Allah secara tak terlihat, menjadikan semua rencana karya keselamatan melalui Yesus Kristus semakin digenapi.

Bagaimana dengan kematian anak-anak seusia Yesus di Betlehem. Saya mencoba memberikan komentar, bahwa peristiwa ini tetap ada di dalam kedaulatan Allah. Artinya Allah di dalam kedaulatan-Nya (kendali), melalui kematian anak-anak itu menunjukkan perbuatan jahat dari Herodes. Perbuatan jahat Herodes yang ingin menggagalkan rencana Allah.
Herodes memang dikenal memiliki ketakutan (paranoid) terhadap orang lain yang mau menyaingi dan merebut kekuasaannya. Hal ini mewakili dosa salah satu manusia, yang ingin memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Bahkan secara lebih luas, manusia pertama yaitu Adam yang berusaha ingin memiliki kekuasaan yang sama dengan kekuasaan Allah.
Selain itu melalui peristwa ini, Allah juga menunjukkan pemeliharaan-Nya terhadap Yesus dan orangtuanya yang terhindar dari ancaman kematian dari Herodes. Peristiwa ini mirip dengan peristiwa kematian bayi-bayi orang Israel pada zaman kelahiran Musa di Mesir. Di dalam peristiwa tersebut, juga menunjukkan kehadiran, kedaulatan dan kendali Allah di dalam terselamatkannya Musa dari antara bayi-bayi yang diperintahkan untuk dibunuh oleh Firaun. Saya tidak akan membahas mengenai keselamatan para bayi tersebut di refleksi ini, walaupun saya percaya bahwa selamat tidaknya mereka ada di dalam kedaulatan dan keadilan Allah.
Gambaran secara luas, dapat kita tarik bahwa di tengah-tengah penderitaan dan penganiayaan yang disebabkan oleh dosa; Tuhan memberikan secercah cahaya pengharapan melalui tidak ditemukan dan tidak terbunuhnya sang Anak, Yesus. Karena melalui Yesuslah, nanti Allah akan menggenapi janji pembebasan dan keselamatan dari dosa terhadap umat Israel dan seluruh umat umat manusia. Karya penyelamatan Allah terhadap Yesus dan orang tuanya sengaja disajikan dan dibandingkan dengan peristiwa pembunuhan anak-anak dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa karya Allah lebih besar dari usaha manusia.

Pelajaran yang bisa diambil dari refleksi ini adalah kita bisa menemukan janji penyertaan Allah yang digenapi dalam peristiwa kematian beberapa anak di Betlehem. Allah yang menjanjikan adanya seorang Juruselamat, melalui Yesus Kristus; tidak dapat digagalkan oleh rencana jahat manusia (Herodes). Janji Allah untuk hal itu mulai terancangkan, di awal kehidupan Yesus Kristus.
Tangisan anak-anak di satu sisi dianggap sebagai sebuah kejahatan, namun di sisi secara global (big picture) menunjukkan ada karya pemeliharaan Tuhan -> rancangan keselamatan umat manusia di dalam Yesus Kristus.
Hal ini pula yang harus kita pegang sebagai anak-anak Tuhan bahwa Allah selalu menyertai setiap umat-Nya hingga kedatangan-Nya yang kedua kali nanti. Tidak hanya pemeliharaan Tuhan, namun Allah berdaulat dalam seluruh kehidupan umat manusia di bumi ini, walaupun ada kejahatan sekalipun. Kejahatan yang Tuhan ijinkan terjadi pun adalah untuk menunjukkan bahwa inilah kehidupan dalam dunia yang berdosa.
Saya teringat suatu kesaksian dari Bill Gaither yang menciptakan lagu Because He Lives. Ia menciptakan lagu itu ketika ia merasa khawatir akan kelahiran anaknya. Namun ketika anaknya lahir dan menangis, ia merasa ketakutan itu pun menjadi hilang. Tangisan bayi itu menyadarkan dia bahwa bayinya hidup. Tangisan itu juga menyadarkan dia bahwa keberadaan kita sebagai manusia adalah kecil dan tak berdaya, di tangan Tuhan. Melalui tangisan itu ia sadar bahwa hidup manusia ada di tangan Tuhan. Walaupun ada kesulitan dan penderitaan, namun tetap ada pengharapan di dalam Yesus Kristus. Pengharapan yang ditunjukkan melalui kemenangan-Nya atas dosa dan maut dengan kebangkitan-Nya pada hari ketiga.
Tuhan yang telah mati, namun Ia bangkit untuk menyatakan jaminan akan adanya hari esok. Jaminan akan adanya keselamatan hidup kekal bagi setiap manusia yang mau datang, bertobat dan percaya kepada nama Yesus.
Mari bersama-sama kita menggunakan waktu minggu Advent ini dengan baik-baik untuk merenungkan makna Natal bagi kita, umat percaya yang sedang menantikan Dia juga akan datang kedua kalinya ke dunia.


Kamis, 22 September 2011

A Gift from God

Inilah Lagu Kemesraan Kaka kepada Istri 

A Gift from God (Versi Bahasa Inggris)

I tried to find you in faith,
before the Lord’s altar, I got you from His hands
I tried to find you in faith, before the Lord’s altar
It was more than I had dreamt, it was part of Him

How I had prayed, Asking for someone like you
Then, I got much more than I had dreamt for me
Your love makes me wish to be a supporting collumn, to have a home and a family
To look at the Lord and, in Him, to find a way
To have you forever as the bearer of His word in our home

Life put us in the test, but we succeed
Lord prepared us Today, here we are,
before Him Asking for His blessing to our home

Wherever you go, I’ll go with you
Wherever you land, there I’ll land too
Your faith will be my faith
And your Lord, my Lord

Source: http://bola.kompas.com/read/2011/09/23/05333658/Inilah.Lagu.Kemesraan.Kaka.kepada.Istri

Rabu, 27 Juli 2011

Mari Bersama, Kita Mempraktekkan Kehidupan Jemaat Mula-Mula (1 Kis. 2:41-47)

I. Pendahuluan
Seorang Kristen yang telah diselamatkan, pastinya akan menerima jaminan hidup kekal, yaitu masuk Surga. Namun tidak langsung serta merta, masuk ke Surga pada saat itu, bukan? Kenapa? Ya, tentu saja karena kita tidak segera langsung pada saat itu masuk Surga, karena kalau kita langsung masuk Surga, ya berarti kita langsung meninggal dunia. Nah, ini berarti kita masih harus menjalani hidup di dunia ini.

Setelah kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, serta menerima jaminan hidup kekal bukan berarti kita berhenti sampai situ saja. Tugas kita masih ada. Already but not yet. Kita Already (sudah) mendapatkan jaminan keselamatan kekal, tapi not yet (belum tergenapi) secara penuh karena masih menunggu konsumasinya (penggenapan secara utuh) pada saat kita meninggal dunia atau ketika Tuhan Yesus datang yang kedua kalinya. Selama not yet itulah, kita menjalani hidup yang bukan hanya sekedar menjalankan hidup saja, namun pastinya ada tugas dan tanggung jawab yang Tuhan berikan. Suatu anugerah kesempatan hidup yang Tuhan berikan, untuk dijalani dengan tujuan untuk memuliakan nama Tuhan. Hidup yang memuliakan nama Tuhan, seharusnya mengarah kepada hidup yang semakin serupa dengan Kristus, sebagai Tuhan Allah Pencipta dan Penebus kita. Menghidupi hidup yang diberikan Allah sesuai dengan kehendak, tujuan dan rencana-Nya.

Perwujudannya diantaranya adalah dengan belajar untuk menjalankan hidup benar di hadapan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari; semakin belajar untuk mengenal Tuhan dalam suatu relasi yang intim bersama Tuhan baik secara pribadi maupun dalam suatu komunitas orang percaya; hingga akhirnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat memberitakan Injil kepada orang lain. Secara langsung yaitu melalui semangat dan melakukan misi dan ber-PI (Pekabaran Injil). Secara tidak langsung yaitu melalui teladan hidup kita, dimanapun dan kapanpun kita berada. Sehingga pada akhirnya, setiap orang bisa mengenal dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya sehingga semakin bertambah jumlah orang yang boleh dimenangkan bagi Kristus dan nama Tuhan semakin dimuliakan di atas muka bumi ini.

Hal ini sejalan dengan tema HUT gereja kita, GMI Imanuel pada tahun ini yaitu “Cinta Akan Rumah-Mu Membangunkanku”. Rumah-Mu di sini tentunya merujuk kepada rumah Tuhan (gereja). Gereja di sini tentunya tidak hanya sekedar gereja dalam arti literal berupa gedung gereja Tuhan secara fisik saja, namun juga gereja dalam gambaran sebagai tubuh Kristus. Tubuh Kristus yang terdiri dari beberapa anggota tubuh Kristus, yang terdiri dari kumpulan orang-orang percaya.

Sikap setiap jemaat Tuhan untuk mencintai akan rumah Tuhan, baik mencintai bangunan gereja secara fisik maupun mencintai gereja sebagai kumpulan komunitas orang percaya, pastinya Tuhan akan memberikan suatu kebangkitan dan pertumbuhan bagi gereja tersebut. Kebangkitan kerohanian masing-masing jemaat sebagai tubuh Kristus yang akan berdampak pula terhadap pertumbuhan jumlah jemaat gereja. Namun pertanyaannya sekarang, adalah apakah kita sebagai umat Tuhan sudah mencintai gereja kita? Mencintai Gereja Methodis Imanuel sebagai rumah Tuhan secara fisik maupun mencintai gereja yang melambangkan komunitas orang percaya. Tapi mungkin kita belum tahu bagaimana caranya?

Pada kesempatan ini, kita akan sama-sama belajar dari apa yang Alkitab katakan mengenai bagian ini, yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-sehari jemaat Kristen mula-mula di Yerusalem. Kehidupan mereka mewakili gambaran gereja yang hidup dan sehat melalui pertumbuhan kerohanian dan pertumbuhan jemaatnya. Gereja yang mencintai Tuhan, gereja dan sesamanya. Kita akan coba melihat relasi yang bisa direlevansikan dengan kehidupan gereja pada saat ini.

II. Kehidupan Jemaat Mula-Mula
Gereja yang bertumbuh, menurut Rick Warren, dalam bukunya The Purpose Driven Church, adalah gereja yang hidup dan sehat. Bertumbuh secara kualitas juga secara kuantitas. Kualitas di sini berkaitan dengan kehidupan kerohanian jemaat, sedangkan kuantitas berkaitan dengan jumlah jemaat. Kaitannya diharapkan adalah dengan adanya suatu pertumbuhan kualitas kerohanian seseorang akan mempengaruhi kerinduan dirinya untuk juga membawa orang lain datang dan mengenal Tuhan. Andaikan satu orang saja sudah memiliki kerinduan ini, kita tentu akan melihat dampaknya, jika hal ini terjadi pada seluruh anggota gereja. Tentu saja hal ini tidak dapat kita pisahkan dari adanya peran Tuhan yang memberikan pertumbuhan jumlah jemaat tersebut.

Di dalam Alkitab, kita bisa melihat hal ini di dalam Kisah Para Rasul pasal 2 ayat 41-47, yang menceritakan cara hidup jemaat mula-mula pada waktu itu. Kita akan melihat kehidupan kerohanian jemaat mula-mula yang berdampak terhadap lingkungan sekitar dan akhirnya menambahkan jumlah orang yang percaya.

Jemaat di Kisah Para Rasul ini terdiri dari sebagian orang-orang non-Yahudi (gentiles), dan juga sebagian orang Yahudi yang telah bertobat menjadi pengikut Kristus. Hal ini dapat dilihat di pasalnya yang ke-2 ayat 14, yaitu ketika rasul Petrus berkotbah di hadapan orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi yang tinggal di Yerusalem untuk mengikuti ibadah Pentakosta.[1] Mereka menunjukkan pertobatan mereka dengan cara memberi diri mereka dibaptis di dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa mereka (ay. 38). Jumlah mereka kira-kira sebanyak tiga ribu jiwa (ay. 41).

Keadaan mereka setelah bertobat tidak berhenti hanya sampai dibaptis saja. Mereka pun mulai bertekun bersama dalam pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti dan doa bersama. (ay. 42a). Mereka biasa melakukannya di rumah salah satu jemaat secara bergiliran (ay. 46). Mereka inilah yang disebut sebagai kumpulan jemaat mula-mula, sebagai cikal bakal berdirinya suatu gereja Tuhan pada saat ini. Kita akan melihat penjelasan 4 kegiatan yang biasa dilakukan oleh jemaat mula-mula dan dampaknya, di bawah ini:

1. Pengajaran para rasul (teaching)
Suatu landasan penting yang mendasari kehidupan kerohanian jemaat mula-mula. Bertujuan untuk mengajarkan iman yang berpusat kepada Kristus melalui pengajaran para rasul disertai mempersiapkan para jemaat untuk mewujudkannya dalam kehidupannya sehari-hari. Menjadi saksi di tengah-tengah komunitas orang percaya maupun orang-orang yang belum percaya.

2. Persekutuan (fellowship)
Kata persekutuan di sini lebih merujuk kepada aktifitas sharing atau berbagi di tengah-tengah komunitas orang percaya. Hal ini ditunjukkan dalam hal berbagi kepunyaan milik pribadi untuk kebutuhan bersama (ay. 44-45). Mereka menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluannya masing-masing (ay. 45). Persekutuan ini juga disertai dengan kegiatan memuji Allah secara bersama, makan bersama-sama, dan juga berdoa bersama. Hal ini memperlihatkan adanya suatu keutuhan dan kesatuan hati, yang diwujudkan dengan kepedulian terhadap sesamanya. Relasi dalam suatu persekutuan yang didasari atas kesamaan status sebagai pengikut Kristus, anggota tubuh Kristus.

3. Pemecahan roti (breaking of bread)
Kegiatan ini merujuk kepada kegiatan perjamuan suci, yang serupa dengan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dalam perjamuan terakhir bersama murid-muridnya. Pada awalnya, kegiatan ini dilakukan sebagai sebuah perayaan untuk memperingati peristiwa perjamuan terakhir tersebut. Sebenarnya dalam konteks bagian ini, penulis ingin menggambarkan interaksi antara sesama anggota jemaat yang harmonis disertai dengan adanya pengertian dan penerimaan satu sama lainnya. Inilah tujuan dari kehidupan komunitas orang percaya yang sebenarnya.

4. Doa (the prayers)
Aktifitas berdoa bersama juga menjadi salah satu kegiatan yang utama, yang dilakukan oleh jemaat mula-mula. Doa sebagai suatu kegiatan rohani yang menunjukkan suatu relasi dengan Tuhan. Tujuannya adalah untuk mencari kehendak Tuhan, memohon penyertaan-Nya dan bersandar kepada-Nya melalui kuasa doa. Bentuk doa pada waktu itu tidak hanya berasal dari ritual doa Yahudi saja, namun juga mulai berkembang menjadi bentuk doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya serta doa-doa yang sifatnya spontan. Ritual doa yang tidak hanya dapat dilakukan di dalam Bait Suci, namun juga dapat dilakukan di dalam rumah-rumah jemaat. Hal ini dapat dilihat di ayat 46.

Melalui kegiatan mereka sehari-hari ini, tentunya memiliki dampak dan pengaruh, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, yaitu di dalam komunitas orang percaya memiliki suatu pengenalan akan Tuhan yang semakin bertambah, melalui pengajaran para rasul. Kemudian mereka juga mewujudkannya dalam kehidupan suatu komunitas yang bersatu dan sehati; saling membangun; menguatkan; dan memperhatikan satu sama lain (adanya kepedulian terhadap sesama yang sedang membutuhkan), melalui adanya persekutuan dan doa bersama. Hal ini terlihat dapat dilihat di dalam ayat 44, 45 dan 46.[2]

Dampaknya secara eksternal, yaitu bagi komunitas sekitar yang terdiri dari orang-orang non-percaya yang berada di luar komunitas ini. Di dalam ayat 43, dikatakan bahwa mereka merasakan kagum, takut bahkan berhati-hati, ketika mereka melihat kegiatan komunitas jemaat mula-mula ini.[3] Terlebih lagi ketika mereka melihat aktifitas para rasul yang mengadakan banyak mujizat dan tanda-tanda. Namun secara kontras, di akhir bagian ini yaitu ayat ke-47 menunjukkan suatu perubahan yang drastis. Dituliskan bahwa: ”…Dan mereka disukai semua orang…”. Awalnya dianggap sesat, aneh, ditakuti;  namun pada akhirnya menjadi disukai semua orang. Menunjukan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh komunitas jemaat mula-mula ini memberikan pengaruh yang baik bagi orang-orang sekitar. Tidak hanya itu saja, bahkan Tuhan juga memberkati komunitas ini, yaitu Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (ay. 47b). Inilah kerohanian seseorang maupun komunitas orang percaya yang telah dipenuhi oleh Roh Kudus.

Keadaan yang sejahtera ini tentunya tidaklah terlalu lama berlangsung, karena Tuhan mengizinkan adanya penganiayaan terhadap orang-orang Kristen yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi maupun para kaisar Roma. Namun sekali lagi kita dapat melihat, bahwa iman mereka tidaklah goyah atau hancur. Walaupun mereka terkesan harus berserakan, bahkan harus keluar dari Yerusalem namun mereka tetap setia dengan imannya. Tentunya hal ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan awal mereka sebagai jemaat mula-mula yang telah memiliki akar yang kuat di dalam pengenalannya akan kebenaran Injil Kristus. Selain itu juga memiliki kesatuan yang sehati dalam kehidupan persekutuan orang percaya dan kehidupan doanya.

Pada akhirnya, kita bisa melihat melalui Kisah Para Rasul ini bahwa Tuhan yang berkuasa dan berdaulat tetap memelihara iman jemaat mula-mula, bahkan melalui peristiwa penganiayaan ini dipakai sebagai suatu cara untuk semakin memberitakan Injil ke seluruh dunia. Para rasul dan para jemaat mula-mula yang dulu berada di Yerusalem, akhirnya harus keluar dari Yerusalem untuk melindungi diri dan juga semakin memberitakan Injil Kristus ke daerah-daerah di luar Yerusalem.

III. Relevansi Pada Saat Ini
Melalui kehidupan rohani mereka, Tuhan memberkati dan menambahkan jumlah mereka. Mereka dengan tekun hidup dalam pengajaran Firman Tuhan oleh para rasul. Mereka tekun, bersatu dan sehati, dalam persekutuan orang percaya. Mereka selalu mengingat akan karya keselamatan Tuhan Yesus melalui perjamuan kudus, sebagai dasar mereka untuk hidup benar di tengah-tengah dunia yang belum mengenal Tuhan. Dan mereka juga mengutamakan doa dalam kehidupan mereka, sebagai dasar landasan kerohanian mereka. Melalui doa, mereka mencari kehendak Tuhan, memohon penyertaan pimpinan-Nya dan bersandar kepada-Nya. Inilah contoh kehidupan kerohanian yang harus kita ikuti, sebagai umat Tuhan.

Kita kembali diingatkan untuk mengikuti dari contoh teladan mereka; dan juga menerapkannya dalam kehidupan kerohanian gereja secara keseluruhan. Mulai dari seluruh hamba Tuhan, majelis, pengurus, aktifis, jemaat awam secara bergandengan tangan berkomitmen untuk melakukannya. Kita bersama-sama bertekun untuk hidup dalam pengajaran Firman Tuhan, yang disediakan di dalam kebaktian umum setiap minggunya, maupun secara pribadi dalam kehidupan SaTe (Saat Teduh) kita.

Bersama-sama berkomitmen untuk bergabung dalam persekutuan-persekutuan yang ada. Mulai dari persekutuan-persekutuan berdasarkan pembagian klasifikasi yang ada. Mulai dari kebaktian PRMI (remaja); persekutuan P3MI (pemuda); persekutuan P2MI (kaum pria); persekutuan PWMI (kaum wanita); dan persekutuan usia indah (lanjut usia). Tidak hanya itu, kita juga berkomitmen untuk mengikuti kelompok-kelompok kecil yang telah disediakan gereja, untuk semakin mempraktikan kehidupan jemaat mula-mula. Persekutuan sesama anggota tubuh Kristus, yang bersatu dan sehati, yang dilandasi atas dasar kasih Kristus dan kasih terhadap sesama. Melalui persekutuan ini, kita belajar mempraktekkan kasih kita kepada sesama melalui kepedulian kita. Persekutuan sebagai alat kepanjangan tangan dari gereja, untuk memantau segala hal yang mungkin tidak bisa dijangkau oleh gereja secara langsung. Hal ini biasanya disebabkan karena begitu banyaknya jumlah jemaat yang harus diperhatikan satu demi satu.

Di dalam persekutuan, juga bisa meniru kehidupan jemaat mula-mula untuk mengadakan makan bersama. Tidak harus mewah dan mahal, yang sifatnya sederhana pun juga boleh;  Namun yang terutama adalah adanya kebersamaan di antara sesama anggota. Hal ini bertujuan untuk menjalin relasi yang baik dan harmonis; memiliki pengertian, keterbukaan, penerimaan dan kepercayaan satu sama lainnya. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya sama dan setara di mata Tuhan. Apalagi tradisi dalam kebudayaan Tionghoa ataupun Indonesia secara keseluruhan yang biasa menggunakan tradisi makan bersama sebagai lambang adanya kebersamaan dengan sesama.

Terakhir berkomitmen dalam kehidupan doa kita. Tidak hanya mengikuti persekutuan doa di gereja, namun juga harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kebiasaan berdoa setiap hari pada kegiatan Saat Teduh, hingga pada akhirnya menjadi sebuah gaya hidup (kebiasaan) yang dilakukan tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat. Artinya dalam segala keadaan, dimana pun dan kapan pun kita dapat berdoa, berseru, berbicara kepada Tuhan. Berdoa tidak hanya sekedar berisi doa permohonan pribadi akan segala kebutuhan kita, namun yang terutama adalah berisi doa-doa syukur kepada Tuhan, doa pujian kepada Tuhan dan doa syafaat bagi bangsa, gereja, dan sesama kita maupun orang lain yang sedang membutuhkan. Berdoa yang benar, fokusnya adalah bukan hanya pada diri sendiri, melainkan juga seharusnya berfokus pada yang ada di luar diri kita, di sekeliling kita.

Motivasi berdoa juga harus dilandasi atas anugerah Tuhan yang telah memperdamaikan kita sehingga kita dapat berkomunikasi kepada Tuhan melalui doa. Doa yang seharusnya bertujuan hanya untuk memuliakan nama Tuhan, artinya sesuai dengan kehendak Tuhan. Seperti yang telah Tuhan Yesus ajarkan dalam doa Bapa Kami, yaitu bahwa doa harus diserahkan kepada kehendak Tuhan, bukan kehendak kita sendiri. Karena Ia-lah Allah yang Maha Kuasa, Maha Hadir, Maha Tahu, Maha Baik dan yang berdaulat.

Selain kita mempraktekkan kehidupan jemaat mula-mula, kita pun juga bisa mengikuti segala kegiatan pelayanan gereja yang dapat membantu kita untuk semakin mencintai Tuhan, gereja dan sesama. Salah satunya adalah dengan mengikuti program pembinaan Komunitas KAMBIUM.[4] Suatu program yang telah gereja sediakan bagi jemaat yang telah mengikuti katekisasi, pembaptisan atau sidi (baptis dewasa). Program ini bertujuan untuk meletakkan dasar-dasar pertumbuhan iman Kristen untuk menjadi murid Kristus dan menjadikan orang lain murid Kristus di mana pun dia berada dan diutus. Sehingga pada akhirnya setiap jemaat dapat memiliki suatu kehidupan kerohanian yang berakar dalam Kristus; bertumbuh dalam Kristus; dan berbuah dalam Kristus. Sehingga kita tidak hanya semakin mengenal-Nya, namun juga dapat semakin mengasihi-Nya, melayani-Nya dan membagikannya kepada orang lain. Sehingga nama Kristus semakin dimuliakan pada akhirnya.


IV. Kesimpulan
Pada akhirnya semakin kita mencintai Tuhan, maka kita juga akan mencintai gereja, rumah Tuhan. Semakin kita mencintai Tuhan, secara otomatis kita pun akan dibawa untuk mencintai gereja Tuhan dan komunitas orang percaya. Mencintai gereja berarti juga mencintai komunitas orang-orang percaya di dalamnya. Berkomitmen bersama untuk bergabung di dalamnya. Sama-sama saling mengubah dan diubahkan. Saling belajar dan diajar. Saling memberkati dan diberkati. Hingga pada akhirnya, kita semua akan mengalami suatu pertumbuhan kerohanian bersama-sama. Tidak hanya bertumbuh melainkan juga semakin berbuah bagi komunitas sesama orang percaya. Bahkan juga berbuah (berdampak) bagi orang lain di sekitar kita yang belum mengenal Tuhan. Pastilah, jika melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan dan bersandar pada kuasa Roh Kudus maka Ia pun akan menyertai dan memberkatinya. Hal ini sama seperti yang pernah dialami oleh jemaat mula-mula. Kita percaya, pada akhirnya bahwa setiap gereja dan komunitas umat Tuhan yang hidup mengikuti kehendak Tuhan, akan diberkati Tuhan melalui terjadinya pertumbuhan secara kerohanian dan pertambahan dalam jumlah orang-orang yang diselamatkan.

Gereja Methodis Indonesia Jemaat Imanuel pun bisa mengalaminya, jika berkomitmen secara bersama-sama, bergandengan tangan meneladani dan mempraktekkan kehidupan jemaat mula-mula. Mari kita bersama-sama mulai mempraktekkan kehidupan jemaat mula-mula. Semakin mencintai Tuhan. Semakin mencintai gereja Tuhan dan semakin mencintai sesamanya. Bersama dan di dalam Tuhan, GMI Imanuel pasti akan bisa mengalami kebangkitan rohani dan pertumbuhan jemaat. Amin. Soli Deo Gloria.

Sumber:
Bock, Darrel. L. ACTS. Baker Exegetical Commentary on the New Testament. Grand Rapids:
Baker Books, 2007.
Drane, John. Memahami Perjanjian Baru, Pengantar Historis-Teologis. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2000.
Marshall, I. Howard. ACTS. The Tyndale New Testament Commentaries. Surabaya:
Momentum, 2007.


[1] Pentakosta adalah suatu hari perayaan rutin orang Yahudi yang dapat dilihat di dalam PL (Kel. 23:16; Im. 23:15-21; Ul. 16:9-12). Biasanya disebut dengan Hari Raya 7 Minggu (Hari Raya Menuai). Dirayakan pada waktu lima puluh hari setelah permulaan panen atau sesudah perayaan Paskah PL. Oleh karena itu perayaan ini untuk memperingati saat pemberiaan Taurat di Gunung Sinai, 50 hari setelah perayaan Paskah di Mesir. Hari Raya ini termasuk dalam salah satu dari tiga Hari Raya besar orang Israel yang harus dirayakan dengan cara berkumpulnya para lelaki Yahudi di Bait Allah Yerusalem. Namun berubah maknanya setelah peristiwa turunnya Roh Kudus di dalam PB.
[2] Perhatikan kata yang diberi huruf tebal. Ayat 44: “dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.” Ayat 45: “….mereka menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Ayat 46: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,”
[3] Bagian ini merujuk kepada jiwa-jiwa mereka menjadi kagum, takut dan juga berhati-hati terhadap kegiatan komunitas jemaat mula-mula tersebut. Hal ini karena latar belakang pada waktu itu bahwa orang-orang Kristen dianggap sebagai pecahan dari Yahudi (sekte) yang sesat, yang patut diwaspadai. Bahkan mereka juga dianggap sebagai pemberontak karena mereka menolak untuk menyembah kepada Kaisar. Terlebih lagi dengan peristiwa hukuman mati disalib terhadap Yesus Kristus sebagai pencetus (pemimpin) komunitas ini.
[4] KAMBIUM, singkatan dari Komunitas Pertumbuhan Iman Untuk Menjadi Murid Kristus.

Rabu, 13 Juli 2011

Hate waiting? Tell us why!

Hate waiting? Tell us why!

Hamba Tuhan juga manusia biasa, bukan SUPERMAN

Sedih mendengarnya...... Just think n realize this fact n the reality (ga abis pikir):

Even hamba Tuhan adalah pelayan Tuhan yang dengan sukarela mengerjakan pelayanan panggilannya....namun ia juga manusia biasa yang punya banyak kelemahan (walaupun bukan sebuah kompromi). Ia hamba dan pelayan TUHAN, bukan pelayan dan hamba MANUSIA....bukan pula pelayan dan hamba GEREJA.

Perlakukanlah ia sama seperti Tuhan Yesus juga telah memperlakukanmu sebagai sesamanya manusia. Hal ini terlihat ketika Tuhan Yesus mengajarkan kepada para pendengarnya dengan cerita perumpamaan orang Samaria yang baik.

Tidak hanya itu, bahkan rasul Paulus juga mengajarkan dan mengingatkan dalam surat Efesus dan Kolose, mengenai aplikasi cara hidup seseorang sebagai manusia baru. Manusia yang telah menerima ANUGERAH KESELAMATAN dari Kristus.

Dalam surat Efesus 2:10, kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan PEKERJAAN BAIK yang dipersiapkan Allah,....supaya kita HIDUP di dalamnya (LIVE the LIFE in Christ absolutely).Hiduplah sebagai orang yang mengenal Allah, bukan lagi hidup seperti orang bebal. Yaitu dengan menerapkan KASIH KRISTUS sebagai dasar hidup, entah di dalam hubungan suami isteri, orang tua dan anak termasuk antara TUAN dan HAMBA (Ef. 5-6).

(ay. 5-6) Hamba harus mentaati dengan takut hormat dan gentar, tulus hati sama seperti taat kepada Kristus. Melayan dengan segenap hati untuk TUHAN, bukan untuk MANUSIA. Demikian pula TUAN-TUAN, PERBUATLAH JUGA terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman (ay. 9). Ingatlah, contohlah, teladan bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di Sorga JUGA TIDAK MEMANDANG MUKA (membeda-bedakan).

Memang ketika saya menulis ini, jujur saya sedang emosi karena mendengar suatu kasus cerita seorang teman yang sedang praktek pelayanan setahun di sebuah gereja. Cerita lama yang tidak asing lagi, ketika ia merasa dirinya dianggap seperti seorang bawahan yang sedang melayani manusia, bukan gereja. Melayani karena TAKUT sama manusia, bukan TAKUT akan TUHAN. Melayani hingga sampai tidak dapat istirahat, saking SIBUKNYA....entah itu ada atau tidak hamba Tuhan yang lain. Biasannya hal ini dilakukan oleh seorang majelis atau bahkan lagi, dilakukan oleh seorang HAMBA TUHAN yang senior atau juga seorang ISTRI HAMBA TUHAN.

Namun sekali lagi saya juga tidak ingin meyoroti dari satu sisi saja. Makanya, saya menyoroti dari dua sisi, baik itu sebagai HAMBA maupun TUAN dan apapun status pekerjaan kita....kita harus memberikan yang terbaik, dan untuk memuliakan nama-Nya. Lakukan dengan dasar Kasih Kristus.

Saya juga pasti akan terus memberikan kekuatan dan semangat bagi dirinya. Tidak lupa mengajarkan untuk mencoba melihat, menantikan KARYA TUHAN dan PEMBENTUKANNYA dengan KESABARAN dan PENGHARAPAN. Walaupun seringkali kita tidak sabaran. Selain itu juga BELAJAR dari KESALAHAN-KESALAHAN yang terjadi dan telah dilakukan, sehingga kita TIDAK MENGULANGINYA lagi. Pasti ada sebabnya, BACKGROUNDnya seseorang melakukan kesalahan dalam menjalankan fungsinya, sebagai HAMBA maupun sebagai TUAN.

Saya juga belajar untuk bukan emosi, membalas, tapi dengan BERDOA.
Bapa, Ampunilah mereka yang berbuat tidak sepantasnya kepada para hamba Tuhan..terkadang mereka tidak tahu, tidak memahami..dan tidak bersikap dengan KASIH-MU. Tuhan juga tolong TEGUR mereka, agar mereka menyadari kesalahannya karena TUHAN sendiri telah mengajarkan bagaimana MEMPERLAKUKAN SESAMANYA MANUSIA. Apalagi ini adalah SESAMANYA REKAN SEPELAYANAN.

Ajarlah setiap hamba Tuhan yang diperlakukan seperti itu, agar mampu melihat KARYA PEMBENTUKAN TUHAN dengan MATA HATI yang berasal dari TUHAN, dengan KASIH yang Murah Hati, dan PANJANG SABAR.

BANYAK TAHU sesuatu belum tentu MAMPU MELAKUKAN dengan BENAR...namun MAU TERUS BELAJAR dan DIAJAR dengan memiliki KERENDAHAN HATI, niscaya juga memiliki KEMAMPUAN untuk melakukankan dengan BENAR.

Pasti, Tuhan Yesus tetap menyertai setiap hamba-hambaNya....
Tetap berdoa, tetap bersandar, tetap memberikan yang terbaik, tetap tersenyum.....
just as what Jesus has done.

Tuhan Memberkati, Soli Deo Gloria.