Selasa, 11 Januari 2011

Menyikapi Perkembangan Corak Ibadah Kristen Pada Masa Kini


I. Pendahuluan
Ibadah dalam kekristenan merupakan sebuah hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan dilakukan oleh gereja.

Pengertian gereja di sini tentunya tidak hanya pengertian gereja secara literal (bangunan fisik), namun juga pengertian gereja yang sebagai sebuah simbol dari tubuh Kristus, yang terdiri dari persekutuan orang-orang percaya di dalamnya. Itu berarti bahwa pelaksanaan ibadah merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan dan dilakukan, oleh setiap orang percaya.

Seperti halnya pengertian gereja di atas, definisi ibadah juga mencakup dua bagian yang tidak terpisahkan satu sama lainnya, yaitu ibadah yang bersifat batiniah (aspek fisik) maupun bersifat spiritual (aspek rohani).

Ibadah yang bersifat batiniah adalah sebuah aktifitas rohani yang dilakukan untuk menyembah Allah, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama dalam suatu tempat. Sedangkan ibadah yang bersifat rohani, adalah sebuah penyembahan kepada Allah yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Artinya beribadah kepada Allah, untuk memuliakan Allah, namun perwujudannya di dalam kehidupan sehari-sehari. Alkitab pun bahkan menekankan bahwa ibadah sejati bukanlah persoalan bentuk, ritus, atau upacara. Ibadah yang sejati seharusnya adalah bagaimana mewujudkan sikap memuliakan Allah dan kehadiran Allah di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan dengan menjadikan seluruh aspek dalam kehidupan setiap orang percaya dipakai untuk memuliakan Allah.

John Stott memberikan tiga alasan utama mengenai betapa pentingnya ibadah dalam kehidupan orang percaya, baik yang dilakukan secara batiniah maupun secara rohani. Alasan pertama, adalah karena ibadah merupakan kewajiban setiap manusia kepada Tuhan, yang harus dilakukan dan diutamakan daripada kewajiban kepada sesama. Sebuah kewajiban dalam sebuah relasi yang terjalin, antara manusia sebagai ciptaan dengan Allah, Sang Pencipta. Alasan kedua, adalah karena semua orang Kristen adalah seorang pendoa, orang yang beribadah, baik secara pribadi maupun secara publik. Ibadah sebagai sebuah respon ungkapan syukur dari dalam hati setiap orang Kristen atas semua hal yang telah dilakukan oleh Allah, sebagai Tuhan, Pencipta dan Penebus dosa manusia. Sedangkan alasan yang terakhir menyebutkan bahwa ibadah adalah sebuah kegiatan yang yang dilakukan secara terus menerus berlangsung, bahkan sampai kekekalan.

Tidak heran bila dikatakan bahwa ibadah dalam kekristenan bersifat kekal, artinya ibadah tersebut berlangsung selama hidupnya dan diwujudkan dalam kehidupannya sehari-hari. Sejak seseorang menerima Yesus Kristus hingga nanti pada akhinya bertemu muka dengan muka, dengan Allah di kediaman-Nya.
Oleh karena itu, penulis memilih tema paper mengenai ibadah dalam rangka tugas matakuliah isu-isu gereja pada masa kini. Ibadah dalam gereja tidak terlepas dengan masalah gereja pada masa kini. Setiap gereja seakan-akan berlomba untuk menciptakan bentuk ibadah yang menarik dan mengundang banyak jemaat untuk hadir, di tengah-tengah perubahan zaman pada masa kini yang memasuki zaman postmodern. Penulis rindu kiranya melalui tulisan ini, penulis bisa mendapatkan sesuatu pelajaran mengenai perubahan-perubahan yang harus dihadapi dalam isu-isu mengenai ibadah, khususnya dalam masalah liturgi ibadah raya hari Minggu. Penulis juga akan menekankan pada akhirnya bahwa kedua ibadah ini merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya karena masing-masing akan saling mempengaruhi dalam kehidupan sebagai orang Kristen.


II. Perkembangan Ibadah Kristen dari Zaman ke Zaman

Ibadah Kristen dari zaman ke zaman, mau tidak mau harus menghadapi perubahan dan perkembangan, seturut dengan perubahan zaman dan budaya. Adakalanya harus bertahan namun adakalanya juga harus beradaptasi dengan perubahan tersebut. Tentunya Tuhan mengijinkan hal ini terjadi dan Ia berdaulat memakai perubahan bentuk ibadah yang terjadi, tetap berada dalam kedaulatan-Nya. Menurut penulis, walaupun bentuk ibadah penting, namun yang terlebih penting adalah esensi / hakikat ibadah itu sendiri. Bentuk (form) boleh berubah dan berbeda sesuai dengan konteksnya, namun esensinya harus sesuai dengan kehendak-Nya. Inilah yang penulis ingin sampaikan pada paper ini mengenai hakikat ibadah Kristen yang tidak bisa diubah dan berubah, yaitu harus sesuai dengan kehendak-Nya di dalam Firman-Nya. Dengan memiliki hakikat ibadah yang sejati dan benar maka akan berdampak dalam perwujudannya melalui ibadah-ibadah raya yang bersifat batiniah. Sehingga keseimbangan dan kesatuan antara ibadah yang batiniah dan spiritual pun terjadi.

Ibadah adalah sesuatu yang sudah lama dilakukan, hal ini sudah dilakukan sejak zaman gereja awal, bahkan sejak umat Yahudi didalam Perjanjian Lama. Tentu saja termasuk di dalamnya terjadi beberapa perubahan-perubahan dalam bentuk ibadahnya. Di dalam Alkitab, sesungguhnya konsep ibadah sudah terjadi sejak manusia pertama Adam dan istrinya Hawa berada di taman Eden. Di sanalah sebenarnya konsep ibadah yang sesungguhnya, ibadah yang sejati. Suatu ibadah yang memperlihatkan terjadinya suatu perjumpaan antara manusia dengan Allah secara pribadi, tanpa terhalang oleh apapun termasuk dosa.

Hal ini berubah setelah manusia jatuh dalam dosa. Karena dosa, Allah menjadi murka kepada manusia. Karena dosa, maka ada konsekuensinya, yaitu manusia harus diusir dari taman Eden dan tidak bisa lagi masuk ke dalam kediaman Allah. Oleh karena dosa yang menghalangi, maka manusia tidak bisa lagi beribadah secara langsung kepada Allah. Diperlukan sebuah perantara, dan Allah memberikan caranya melalui ritual kurban.

Kurban binatang dan darah yang berfungsi sebagai pengganti (subtitusi) dari konsekuensi hukuman dosa yaitu kematian, yang seharusnya diterima oleh manusia. Ibadah ritual kurban ini terus berlanjut hingga ke zaman para bapa leluhur, para hakim, para nabi hingga terjadinya bangsa Israel secara keseluruhan setelah keluar dari Mesir. Tidak hanya ritual namun juga Allah menunjukkan bahwa dalam setiap perjumpaan dengan umat-Nya melalui ritual kurban, Allah hadir pada saat itu dalam bentuk simbol-simbol yang diberikan. Mulai dari kehadiran tiang awan dan api di tabernakel, kemudian dalam bentuk tabut perjanjian Allah hingga akhirnya dalam bentuk sebuah bangunan yaitu Bait Suci di Yerusalem dan sinagoge-sinagoge pada zaman Perjanjian Baru.

Orang Kristen yang hidup di sekitar abad ke satu, di zaman Pejanjian Baru mengalami perubahan dalam ibadah karena tidak lagi mengadakan ibadah ritual kurban dan tradisi Yahudi lainnya. Hal ini karena Tuhan Yesus telah menjadi Perintis bagi kita, telah mempersembahkan diri sebagai kurban penyucian, maka para penyembahnya sudah memiliki hak untuk masuk dalam hadirat Allah. Kurban penyucian dan penebusan yang bersifat sekali untuk selamanya. Setiap orang telah berhak bertemu Allah secara pribadi karena telah menerima pendamaian melalui kurban Yesus Kristus, walaupun belum bertemu muka dengan muka secara langsung.

Bahkan dalam surat 1 Petrus 2 ayat 9-10, setiap orang percaya sudah menjadi imamat yang rajani. Artinya kita yang sudah menerima pendamaian oleh karena tubuh dan darah Kristus, dimampukan untuk secara langsung berfungsi sebagai imam. Imam yang bisa bertemu dengan Tuhan melalui pujian dan doa pribadi, imam yang bisa secara langsung mengakui dosa pribadi maupun imam yang bisa membawa orang lain untuk mengenal Kristus. Setiap orang percaya adalah bagian dari tubuh Kristus (gereja) yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Hal ini pun yang akhirnya merubah bentuk ibadah kekristenan mula-mula, yang meninggalkan tradisi ibadah Yahudi. Pada zaman itu, biasa dilakukan hal-hal religius seperti membaptis anggota baru, membaca kitab suci, berdoa, dan menyanyikan pujian dan syukur kepada Tuhan. Ibadah itu mereka naikkan pada hari minggu yang merupakan hari peringatan kebangkitan Yesus. Perubahan-perubahan dalam ibadah yang terjadi dalam kehidupan kekristenan terus berjalan tanpa meninggalkan makna pentingnya setiap orang percaya datang beribadah secara fisik kepada Tuhan, dalam sebuah komunitas orang percaya, pada hari Minggu. Maupun dalam ibadah-ibadah pada hari-hari lainnya, tanpa melupakan ibadah yang bersifat pribadi melalui waktu saat teduh pribadi.

Begitu pentingnya peran ibadah dalam kehidupan umat di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru hingga terus berubah dan berkembang dalam zaman kekristenan mula-mula hingga zaman para bapa gereja, zaman reformasi, zaman pencerahan, zaman modern, hingga zaman sekarang yang disebut zaman postmodern. Hal ini mengingatkan bahwa peran ibadah dalam kehidupan orang Kristen sangatlah penting. Khususnya dalam menghadapi perkembangan zaman yang berdampak kepada perubahan gaya dan metode ibadah di dalam gereja. Namun tentunya ada beberapa hal yang menjadi hakikat dalam ibadah yang tidak berubah, dan tentunya ini menjadi dasar dalam ibadah Kristen.

Hakikat ibadah yang seharusnya diketahui dan dimengerti oleh setiap orang percaya dalam menjalankan ibadahnya, tetap kenyataannya seringkali makna ibadah itu tidak diketahui. Parahnya lagi tidak diajarkan dan dipahami dengan benar oleh gereja dan hamba Tuhan sebagai wakil Allah di dalam dunia. Oleh karena itu dalam menghadapi tantangan perubahan zaman, termasuk di dalamnya pengaruh zaman postmodern dalam gereja, sudah seharusnya gereja dan hamba Tuhan harus kembali memahami hakekat ibadah yang tidak boleh dilupakan.

II. Keadaan Ibadah Pada Masa Kini

Keadaan ibadah pada zaman sekarang untuk sebagian gereja, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh postmodern dalam kehidupan gereja dan orang percaya. Beberapa karakteristik dan ciri dari pandangan postmodern adalah : menolak pemahaman metanarasi (cara pandang / kebenaran yang bersifat absolut / tunggal), menolak cara pandang yang bersifat objektif, melainkan menekankan pandangan / kebenaran yang bersifat subjektif dan pluralis, menekankan relativitas, lebih menghargai perbedaan (pluralisme) daripada keseragaman (universal).

Salah satu penolakan terhadap metanarasi yang berkaitan dengan dengan iman kekristenan, yaitu dengan menolak bahwa hanya Yesus Kristus satu-satunya jalan kepada Allah Bapa di Surga (finalitas Kristus). Bisa saja jalan keselamatan melalui jalan lain, tidak bisa mematok hanya melalui Yesus saja. Dampak lainnya adalah menghargai munculnya perbedaan pandangan, yang masing-masing tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Kaitannya dengan ibadah adalah memunculkan suatu pendapat bahwa tidak ada bentuk / gaya ibadah yang paling benar, apakah itu tradisional maupun kontemporer. Kemudian juga sikap subyektifitas yang tinggi menjadi dasar untuk memilih bentuk ibadah dalam gereja sesuai dengan keinginan masing-masing yang berbeda-beda.

Salah satu dampaknya adalah terkadang terjadi ibadah yang dibentuk dengan menekankan bentuk dan gaya ibadah sesuai dengan keinginan jemaatnya. Alasan perubahan yang sering didengung-dengungkan mengenai model ibadah termasuk di dalamnya jenis musik yang dipakai, adalah demi penginjilan dan menjangkau generasi yang tidak bisa terjangkau oleh gereja tradisional. Tidak hanya itu, terkadang bahkan untuk memenuhi permintaan jemaat, maka gereja rela melakukan perubahan-perubahan gaya ibadah dan jenis musik yang digunakan. Secara ekstrim, terkadang mereka memasukkan pengaruh di luar gereja ke dalam gereja tanpa melalukan penyaringan, yang berkenan dengan kehendak Allah.

Benar jika dikatakan bahwa kita sudah hidup pada zaman entrepreneurial. Artinya kita sudah hidup dalam zaman yang berorientasi kepada bisnis dan kesenangan semata. Termasuk di dalamnya adalah masalah ibadah dalam gereja. Fokusnya bukan lagi kepada Allah, namun sekarang berubah menjadi lebih berorientasi kepada manusia / jemaatnya.

Seringkali hal ini akhirnya berakibat kepada terjadinya suatu istilah yaitu perang ibadah (wars of worship). Perang ibadah ini berdampak kepada perubahan yang menuntut gereja untuk segera berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Namun masalahnya adalah perubahan yang terjadi adalah perubahan menurut keinginan dari masing-masing individu. Hal ini disebabkan gereja tidak mampu berdiri teguh, melainkan mudahnya terombang-ambing. Gereja melakukan perubahan tanpa memikirkan / menyaringnya berdasarkan kebenaran-kebenaran makna ibadah yang alkitabiah. Hal ini biasanya berdampak pada munculnya dua pihak pendukung yang saling tarik menarik, yaitu pihak tradisional dan kontemporer.

Masing-masing pihak akhirnya secara ekstrim saling menyerang, membela diri, menyalahkan pihak lain dan berlomba-lomba untuk membenarkan pihaknya dengan mengutip secara sembarangan ayat-ayat di dalam Alkitab. Tentu saja masalah ini akan menimbulkan pertentangan, dan tidak bisa dipungkiri bila masalah ini muncul di dalam suatu gereja, maka akan menimbulkan perpecahan. Seharusnya gereja menjadi alat untuk pemersatu jemaat sehingga bersama menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus untuk mengabarkan Injil dan memuridkan, malah sebaliknya mengakibatkan perpecahan hingga permusuhan di antara sesama orang percaya.

Selain itu karena perkembangan teknologi dan informasi, dengan mudahnya tren ibadah di luar negeri masuk ke Indonesia. Hal ini berdampak kepada adanya beberapa gereja yang mulai mengadopsi langsung corak ibadah dari luar negeri tersebut. Padahal ketika dibawa dan dipraktekkan di sini, sama sekali tidak sesuai dengan konteks budaya dan tradisi di Indonesia. Tanpa bermaksud mempersalahkan, namun apakah tidak ada penyaringan terlebih dahulu, yang disesuaikan dengan tradisi dan budaya Indonesia. Penulis mencontohkan dengan kasus seorang hamba Tuhan yang berkotbah menggunakan kostum yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, misalnya kaos oblong dengan celana jins yang bolong-bolong. Seakan-akan terkesan tidak menghormati mimbar kotbah dan statusnya sebagai representasi / wakil Allah untuk berbicara kepada umat-Nya. Walaupun kalau mau dijawab alasannya yang mengikuti konteks negara asalnya di luar negeri yang memperbolehkan adanya kebebasan dalam berpakaian.

Pada akhirnya bisa dikatakan bahwa banyak dari ibadah suatu gereja hanyalah sebuah ritus yang rutin tanpa realitas, yaitu suatu bentuk tanpa kuasa, kesenangan tanpa rasa takut akan Tuhan, agama tanpa Allah. Bahkan Allah sendiri pun pernah menegur hal ini di dalam Perjanjian Baru, yaitu suatu bentuk ibadah dalam agama yang kosong (lih. Yes. 29:13 dan Markus 7:6).

Sekularisme juga mulai beranjak masuk dan mempengaruhi ibadah di dalam gereja. Allah dicari bukan sebagai tujuan di dalam diri-Nya sendiri, namun sebagai jalan untuk mencapai tujuan-tujuan sekuler, yakni kekayaan, kenikmatan duniawi dan ketenaran. Pola pikir seperti ini tidak bisa dipungkiri sudah menjadi bagian dalam gereja, yang dibawa masuk oleh jemaatnya sendiri, termasuk di dalamnya oleh orang-orang yang aktif dalam pelayanan sekalipun.

Keadaan yang terjadi di atas tidak serta merta mempengaruhi sebagian gereja yang lain untuk mengikuti arus perubahan ibadah yang terjadi. Ada yang tetap bertahan menjaga corak ibadahnya, hingga terkesan bersifat kolot karena bersikukuh untuk tidak berubah. Namun ada juga yang mampu beradaptasi tanpa perlu berubah secara total. Jenis ibadah ini biasa disebut dengan istilah blended worship.

Untuk menyikapi perubahan dan perkembangan ibadah yang terjadi, penulis mengajak para pembaca untuk lebih dahulu memahami mengenai hakikat ibadah secara biblika dan makna-makna dalam ibadah yang harus ada dalam sebuah ibadah, sebagai salah satu ciri ibadah yang bersifat alkitabiah.

III. Hakikat ibadah

Definisi dari kata ibadah secara umum, menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, kata ibadah mengandung pengertian suatu perbuatan yang dilakukan berdasarkan rasa bakti dan taat kepada Allah untuk menjalankan perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya.

Pendekatan secara tradisional dalam memahami istilah ibadah adalah dengan mendefinisikan kata ibadah (worship) itu sendiri. Kata Worship berasal dari bahasa Saxon, yaitu dari kata weorthscipe (weorth [worthy] scipe [ship]): hal yang layak untuk dilakukan. Kata “Weorth” berarti “penghormatan”, “Kelayakan”, dan Scipe yang mengacu kepada “Menciptakan”. Selain itu, dalam bahasa Ibrani, kata “Ibadah” adalah “abodah”, suatu kata kerja yang berarti “melayani”. Jadi, ibadah melayani Allah dan kita semua dipanggil untuk menjadi pelayan Allah.

E. F.Harrison menunjukkannya sebagai kelayakan seseorang untuk menerima penghormatan yang khusus berkenaan dengan kelayakannya untuk menerima penghormatan. David Peterson juga mendefinisikannya sebagai sebuah perbuatan yang menganggap sangat layak, bernilai, berharga. Tentunya konteks penggunaan kata ini ditujukan kepada Allah, sebagai pribadi yang layak untuk disembah dan diberikan pujian (lih. Maz 96:7-8; Why. 5:12).

Hal ini berarti menyembah / beribadah kepada Allah adalah sebuah perbuatan yang menganggap bahwa Allah sebagai yang paling layak, bernilai dan berharga untuk disembah, menerima hormat, pujian dan kemuliaan karena memang ini adalah hak dan miliknya. W. McConnell menambahkan bahwa definisi dari kata worship ini menunjukkan bahwa hakekat inti dari ibadah yang bersifat biblika adalah sebuah respon yang sesuai kepada pribadi Allah dan sikap yang menuntun seseorang untuk tunduk atau sujud di hadapan Allah dengan kerendahan hati, yang diekspresikan di dalam sikap takut atau hormat kepada Allah, dan pada akhirnya melayani Dia di dalam ibadah penyembahan dan dalam seluruh aspek kehidupan.

Hughes Oliphant Old menunjukkan di dalam Mazmur 19 ayat 2, bahwa seluruh ciptaan Allah dalam keberadaannya memiliki tujuan untuk merefleksikan kemuliaan ilahi. Terlebih lagi dengan manusia sebagai ciptaan Allah yang paling mulia. Hal ini dapat dilihat di dalam Perjanjian Baru, yaitu ketika rasul Paulus menuliskan doanya di surat Efesus, yang menyatakan dengan jelas bahwa Allah menciptakan manusia untuk memuji Dia. Katekismus Singkat Westminster juga mencatat mengenai tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Allah dan sepenuhnya menikmati Dia untuk selamanya.
P. 1. Apakah tujuan utama manusia?
J. Tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Allah (1) dan menikmati Dia
Selamanya (2).
(1). Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu
yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Kor. 10:31). Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan (Why. 4:11).
(2). Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya (Maz. 73:25-26).

Dari berbagai definisi yang ada, bisa disimpulkan bahwa hal ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia untuk beribadah menyembah Dia. Ibadah merupakan tujuan utama dari keberadaan manusia di muka bumi ini, yaitu untuk melayani dan memancarkan kemuliaan Tuhan. Ibadah sebagai sebuah respon ungkapan syukur manusia terhadap panggilan keselamatan Allah yang telah diberikan melalui anugerah kasih-Nya. Diwujudkan dengan kegiatan berkumpul dalam kumpulan komunitas orang percaya dalam gereja dengan melakukan kegiatan puji-pujian dan penyembahan.

IV. Prinsip-prinsip Ibadah

Dalam menjalankan suatu ibadah, kita tidak boleh melupakan bahwa terdapat aturan-aturan yang harus dihormati dalam menjalankan ibadah. Hal ini diperlukan agar ibadah atau penyembahan yang kita berikan tersebut tidak sampai bertentangan dengan keinginan Allah, sehingga ibadah kita bisa ditolakNya. Oleh karena itu sudah seharusnya gereja kembali mengajarkan prinsip-prinsip ibadah yang alkitabiah.
Alkitab sendiri memberikan pengertian kepada kita mengenai prinsip ibadah yang benar seperti yang tertulis dalam kitab Wahyu sebagai berikut :
1. Ibadah sebagai pemujaan atas keberadaan Tuhan Allah Tritunggal (Wahyu 4:8)
    Ayat ini menunjukkan beberapa aspek dari karakter Allah yang patut dipuja :
    1. Ia disembah sebagai yang Maha Kuasa.
    2. Keempat mahluk dalam ayat tersebut mengetahui keberadaan Allahsebagai satu-satunya penguasa 
        kebenaran.
    3. Allah disembah sebagai pribadi yang kekal. Hal ini diperkuat dengan ayat ke-9 dan 10.

2. Ibadah sebagai pernyataan kekudusan Anak Domba (Yesus Kristus)

Ini adalah tema utama dari Wahyu pasal 5. bila dalam Wahyu pasal 4 dikatakan
bahwa “Ia yang duduk diatas tahta itu layak menerima kemuliaan dan penghormatan” (4:11), maka dalam pasal 5, ditanyakan “siapakah yang layak membuka gulungan kitab dan meterai-materainya?”, satu-satunya yang sanggup adalah Singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud (5:5). Fakta bahwa Ia layak berarti Ia terpilih secara khusus untuk posisi dan tugas yang khusus yang berarti oleh kematian dan kebangkitanNya, Ia telah membeli penebusan dan mengokohkan kerajaanNya. Maka itu, Sang Anak Domba layak menerima penyembahan sama seperti Allah Bapa. Dalam hal ini, penyembahan adalah suatu respon untuk mengakui kelayakan yang tak tertandingi dari Sang Anak Domba.

3. Ibadah sebagai perayaan kemuliaan Allah
Wahyu 19 memberikan suatu ibadah perayaan yang sekaligus bersamaan dengan undangan perjamuan kawin Anak Domba. Dan terdengar suara himpunan besar orang banyak yang berkata (6b-7) : "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.”
Hal ini berarti ibadah adalah “suatu perayaan terhadap apa yang telah Allah lakukan, sedang lakukan, dan apa yang Allah telah janjikan akan melakukan”. Dengan kata lain, ibadah sebagai perayaan adalah suatu hubungan erat yang menggembirakan dengan Allah.

4. Ibadah sebagai lambang kepatuhan atas kekuasaan Allah
Kata proskune,w, yang muncul sebanyak 24 kali di kitab Wahyu, adalah gabungan dari kata pros (“maju”) dan kunevvin (“mencium”). Kata aslinya menuju kepada suatu ciuman menghargai atau penyembahan yang ditujukan kepada orang lain yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Dalam literatur kuno Yunani, proskune,w menunjukkan keadaan seseorang yang sedang bersujud ke tanah, dimana bahasa tubuhnya menunjukkan kehormatan dan kerendahan hati terhadap yang lebih agung, mencium kakinya, menyentuh pakaiannya, atau bertelungkup ke tanah. Dalam kitab Wahyu, tindakan fisik membungkuk ini disertai dengan suatu sikap batin yang dinamakan sebagai suatu kepatuhan akan hukum dan kekuasaan Allah sebagai Raja yang benar, dan sebagai suatu rasa hormat akan Allah.

5. Ibadah sebagai perwujudan rasa takut akan Allah
Ibadah juga mengandung rasa “takut” (fo,bh) akan Allah. Meskipun kata fo,bh dapat berarti rasa takut yang dapat mendorong seseorang menjauhi objek yang menakutkan tersebut (Wahyu 11:11, 13; 18:10,15), rasa takut semacam itu bukanlah suatu ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati rasa takut yang hormat yang mengecilkan hati yang tidak patuh dan membesarkan hati yang patuh kepada Allah juga. Robert H. Mounce menuliskan bahwa “Takut kepada Allah berarti memberikan penghormatan kepadaNya; untuk memberikan kemuliaan kepadaNya berarti menghormatiNya dan kehormatan adalah hakNya”. Perintah untuk takut kepada Allah bukanlah suatu pernyataan akan penghakiman, tetapi adalah suatu pernyataan anugerah. Kata fobevomai dalam konteks ibadah dalam kitab Wahyu tidak pernah digunakan dalam rasa ketakutan; kata itu selalu digunakan untuk menunjukkan suatu perasaan takut yang menghormati Allah.

6. Ibadah sebagai pelayanan untuk Allah
Dalam Wahyu 7:15, kata “melayani” (latreu,ousin) digunakan dalam ibadah dimana hal ini akan mengambiil tempat di kuil yang amat menyenangkan. Dalam Wahyu 22:3, juga disebutkan bahwa “hamba-hamba-Nya akan melayaniNya”. Disana memang tidak disebut kata “kuil”, tetapi ibadah tidak diragukan lagi akan diadakan disitu juga. “Melayani” Allah, berarti beribadah kepadaNya. Rasul Paulus sendiri menekankan dimensi spiritual dari kata ini ketika ia menyuruh orang percaya di Roma untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai suatu persembahan yang hidup kepada Allah, dimana ia mengatakan bahwa “itulah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

Manusia yang telah ditebus oleh karunia Allah dan mendapatkan kuasa dari Injil, pastilah ia memiliki sikap yang benar dalam beribadah. Jika seseorang telah menjadi rendah hati, ia telah mengakui bahwa Allah ialah Allah, dan orang tersebut akan dengan senang hati menerima posisi sebagai seorang ciptaan yang mencintai dan mengasihi Penciptanya. Suatu sikap yang benar dalam ibadah memuji Allah dan bersyukur atas apa yang telah dilakukanNya, khususnya atas hadiah keselamatan dari pengorbanan PutraNya. Kematian Yesus telah membuka jalan untuk hidup dan ibadah yang benar.

Orang percaya juga harus menyembah dalam kebenaran (Yohanes 4:23-24) dan suatu sikap yang benar dalam beribadah akan memimpin kepada ajaran yang benar akan ibadah sejati. Seorang ahli William Temple menggambarkan ibadah adalah untuk memperbarui hati nurani akan kemuliaan Allah, memberi makan pikiran kita akan kebenaran Allah, membuka hati kita akan kasih dari Allah, untuk menyediakan keinginan kita akan maksud dari Allah. orang-orang percaya juga akan mengambil sikap yang benar dalam beribadah. Mereka akan mengesampingkan pikiran dan keinginan mereka dan berfokus untuk menghormati Allah. Mereka menundukkan diri sebagai ciptaan dan memuji Dia karena sifatNya yang tak terkalahkan, KuasaNya, dan KeIllahianNya (ayat 20).

Dengan kata lain, yang dibutuhkan terutama dan terpenting yang harus ada dalam ibadah adalah mengandung / berisi kebenaran. Kebenaran yang absolut, yang adalah berasal dari Tuhan sendiri, yaitu firman-Nya. Hal ini perlu diajarkan oleh gereja kepada jemaat yang sebagian besar telah terpengaruh oleh kondisi postmodern. Aplikasinya juga mencakup dalam jenis dan gaya musik, nyanyian, ajaran Alkitab, kotbah, bentuk liturgi, bentuk tubuh dan suasana ibadah.

Pada akhirnya (7) Prinsip ibadah berikutnya adalah bersifat vertikal dan horisontal. Vertikal berarti mengarah kepada Allah Tritunggal. Artinya yang pertama dan terutama adalah menyembah Allah, memuliakan nama-Nya. Bukan lebih memperhatikan kepada kebutuhan / kepuasan manusia dalam ibadah. Sehingga akan berdampak dalam hubungan pribadi manusia dengan pribadi yang lainnya dalam komunitas orang percaya. Inilah yang dinamakan ibadah yang bersifat vertikal. Mengasihi Allah berarti juga mengasihi sesama manusia seperti mengasihi dirinya sendiri (Ulangan Matius 22:37-40; Imamat 19:18; Ulangan 6:5).

Ibadah berarti tidak hanya sekedar ritual penyembahan kepada Allah yang bersifat fisik, namun juga memiliki kesatuan dalam kehidupan rohani seseorang hingga ia menjadi seseorang yang bertumbuh dan menjadi saksi Injil. Salah satunya adalah dalam berelasi dengan sesamanya manusia.
Melalui penjelasan dan prinsip-prinsip ibadah yang penulis sajikan diharapkan adalah bagi gereja untuk mengembalikan esensi dan hakikat ibadah sebagai yang terutama dalam menghadapi tantangan perubahan yang terus menerpa gereja, khususnya dalam bentuk ibadah gereja.

IV. Kesimpulan
Pada akhirnya sebenarnya bisa dikatakan bahwa pembaharuan tata ibadah yang telah dicoba bertahun-tahun sebenarnya tidak ada yang cukup memadai untuk dapat memenuhi keinginan setiap jemaat. Hal ini karena telah terjadi pergeseran mengenai objek dalam penyembahan.

Fokus sebenarnya bukan dalam hal bentuk / corak ibadah yang harus dirubah, namun harus melihat esensi hakikat ibadahnya terlebih dahulu. Bukan selalu untuk memuaskan kebutuhan manusia / jemaat, melainkan Allah yang menjadi orientasi dalam penyembahan. Allah yang harus menjadi tujuan utama dalam penyembahan. Ibadah harus merupakan sebuah penyembahan kepada Allah, bukan untuk diri sendiri.

Beribadah adalah untuk memuliakan-menyenangkan Allah, oleh karena itu sudah seharusnya ibadah harus God-centered dan Christ-centered.

Perubahan dan perkembangan corak ibadah yang terjadi pada masa kini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh perubahan zaman dan pandangan-pandangan yang menyertainya, dalam hal ini pandangan postmodern. Gereja bukan berarti dengan mudahnya terus menerus berubah mengikuti perkembangan yang terjadi namun harus berani mengambil sikap, yang tentunya harus terlebih dahulu membandingkan dengan kebenaran Firman Tuhan yang menjadi landasan hidup gereja dan orang percaya.

V. Daftar Pustaka
 Anderson, Bernhard W. Contours of Old Testament Theology. Minneapolis : Fortress Press, 1999.
 Byars, Ronal P. The Future of Protestan Worship: Beyond the Worship Wars. Louisville: Westminster John Knox Press, 2002.
 Dawn, Marva J. Reaching Out without Dumbing Down. Grand Rapids : William B. Eerdmans Publishing Company, 1995.
 ____________. A Royal Waste of Time. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing, 1999.
 Dyrness, William A. dan Veli-Matti Kärkkäinen (ed.). Global Dictionary of Theology: a Resource for the Worldwide Church. Downers Grove: IVP, 2008.
 Elwell, Walter A (ed). Evangelical Dictionary of Theology. Grand Rapids: Baker, 1984.
 Frame, John. Worship in Spirit and Truth. Phillipsburg: Presbyterian and & Reformed Publishing, 1996.
 Freedman, David Noel (ed.). The Anchor Bible Dictionary vol. 6. New York : Doubleday, 1992.
 Grenz, Stanley J. A Primer on Postmodernism:Pengantar untuk Memahami Postmodernisme. Diterjemahkan oleh Wilson Suwanto. Yogyakarta: Penebit Andi, 2001.
 Long, Thomas G. Beyond the Worship Wars: Building Vital and Faithful Worship. The Alban Institute, 2001.
 Longman, Tremper, III. dan Peter Enns, ed. Dictionary of the Old Testament: Wisdom, Poetry & Writings. Downers Grove: IVP, 2008.
 Martins, Elmer A. God’s Design: A Focus on Old Testament Theology. Grand Rapids: Baker, 1981.
 Old, Hughes Oliphant. Worship Reformed According to Scripture. Louisville: Westminster John Knox, 2002.
 Peterson, David. Engaging with God: a Biblical Theology of Worship. Downers Grove: IVP, 2002.
 Rachman, Rasid. Pengantar Sejarah Liturgi. Jakarta : Bintang Fajar, 1999.
 Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Edisi kedua. Jakarta: Modern English Press, 1995.
 Segler, Franklin M. dan Randall Bradley. Christian Worship: Its Theology and Practice. Nashville: B&H, 2006.
 Shaw, Mark. Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja. Surabaya: Penerbit Momentum, 2003.
 Stott, John. The Living Church. Terj. Satriyo Widiatmoko. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
 Webber, Robert E. Worship Old & New. Grand Rapids: Zondervan, 1994.
 Wenz, Robert. Room for God? A Worship Challenge for a Church-Growth and Marketing Era. Grand Rapids: Baker Books, 1994.
 White, James F. Pengantar Ibadah Kristen. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2002.
 Williamson, G. I. Katekismus Singkat Westminster, volume 1: Pertanyaan 1-38. Surabaya: Penerbit Momentum, 2006.

 Jurnal:

Bibliotheca Sacra, 158:629 (Januari – March 2001): hal. 75-85.